Akhirnya Kuliah Lagi Oktober 23, 2009
Posted by sony heradi in Kuliah Lagi - The Series.Tags: asoy, belajar, kuliah lagi, Magister Manajemen, S2, sonyheradi, UNEJ
trackback
Akhirnya saya kuliah lagi. Tepat tanggal 12 September 2009 alias 22 Ramadhan 1430 H, saya mulai kuliah lagi. Jadi mahasiswa lagi. Mulai makan bangku kuliah lagi. Ketemu dosen-dosen lagi. Ketemu tugas-tugas lagi. Belajar-belajar lagi. Senangnya. Yang lebih hebat, lingkungan belajar saya yang sekarang ini lebih asoy daripada yang kemaren-kemaren. Itulah yang saya rasakan. Begitu asoynya hingga memberikan saya inspirasi untuk membuat tulisan tentang kegiatan kuliah saya. Di mulai dari tulisan ini, Insya Allah besok-besok akan ada lagi tulisan-tulisan asik menggelitik dari kampus saya.
Hari Sabtu Pon, 22 Ramadhan 1430 H jam 3 sore. Hari itu adalah jadwal kuliah saya pertama kali. Ada perasaan seneng campur deg-degan campur penasaran. Nggak tahu perasaan apa itu namanya. Seneng karena akhirnya bisa kuliah lagi. Deg-degan karena akan diajar oleh dosen- dosen terbaik yang dipunyai oleh universitas. Dan penasaran seperti apa teman-teman saya nantinya.
Sebelumnya, hari Jum’at Pahing tanggal 11 September 2009. Saya ditelepon sama pihak akademis kampus. Mereka memberitahukan bahwa saya masuk kelas B. Masuk kelas B bukan berarti saya dan teman-teman lain yang senasib adalah mahasiswa kualitas 2. Pembagian kelas bukan berdasarkan nilai saat ujian masuk atau mungkin IPK saat S1. Saya sendiri tidak tahu persis bagaimana pihak akademis membagi kelas. Saya cuma terima nasib masuk kelas B. Itu saja. Dalam satu kelas terdiri hanya 15 orang. Jumlah yang sangat ideal untuk perkuliahan. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit.
Karena ini kuliah pertama, tentu saja saya tidak mau terlambat. Hari sabtu, saya masih masuk kerja. Walau hanya setengah hari. Itupun saya sampai rumah jam 2 siang. Sayapun harus berpacu dengan waktu. Begitu sampai rumah langsung mandi, persiapan buku-buku sama alat tulis buat kuliah lalu segera meluncur ke kampus. Jarak dari rumah kekampus sebenarnya tidak terlalu jauh. Sekitar 15 menit naik motor.
Jam 3 kurang 5 menit saya sampai dikampus. Di tempat parkir masih terlihat beberapa mahasiswa yang duduk-duduk, begitu juga diruang lobi kampus. Itu berarti saya tidak terlambat.
Sampai dikampus saya celingukan. Karena ini kuliah pertama, tentu saja saya belum punya teman. Saya juga tidak satupun mengenal dosen-dosennya. Bekal saya cuma informasi jadwal kuliah. Sore itu saya ada kuliah Manajemen Keuangan lalu dilanjutkan sehabis maghrib ada mata kuliah yang lain. Selain jadwal kuliah bekal lainnya adalah informasi ruang tempat kuliah, yaitu di sebuah ruang yang bernama ruang PPS.02. Tapi informasi tersebut percuma karena saya tidak tahu dimana ruangan tersebut berada. Setelah saya tanya dibagian akademik, akhirnya saya tahu kalau ruangan tersebut ada dilantai 3.
Naik ke lantai 3 juga ada ceritanya sendiri. Tentu saja tidak lain berhubungan dengan tubuh saya yang tambun. Dengan penuh semangat saya menaiki anak tangga demi anak tangga. Namun rupanya berat badan saya mengalahkan tingginya semangat saya. Sampai lantai dua seperempat saya sudah ngos-ngosan. Dengan bersandar pada pegangan tangga saya mencoba mengatur nafas. Setelah nafas mulai teratur, saya lanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di lantai 3. Habis itu ngos-ngosan lagi.
Sampai di lantai 3 yang memang lantai teratas dari kampus saya, ada ceritanya juga. Tepat didepan tangga ada sebuah meja dan beberapa kursi. Dibelakang meja dan kursi tersebut atau lurus saja dari tangga ada sebuah ruangan besar yang tidak lain adalah aula kampus, tempat saya menjalani ujian masuk dulu. Melihat kekiri dan kekanan, hanya ada ruang perkuliahan dan 2 toilet diujung kiri dan kanan lantai 3 (atau bagian utara dan selatan lantai 3). Pada bagian selatan selain toilet ada musolla juga. Ada sekitar 7 ruangan (minus toilet dan musolla) dilantai 3. 1 aula besar, 2 ruangan kuliah ukuran sedang, 3 ruangan kuliah ukuran kecil dan 1 ruangan laboratorium komputer.
Cerita dimulai dari saat saya baru sampai di lantai 3. Begitu sampai di lantai 3, saya melihat 2 orang mahasiswa sedang ngobrol di kursi yang ada didepan tangga. Nantinya dua orang tersebut akan menjadi teman sekelas saya. Dari arah tangga terlihat bahwa ruang aula besar sudah ada perkuliahan. Saya jadi takut, jangan-jangan saya terlambat. Dua mahasiswa tadi cuek-cuek saja dengan kehadiran saya. Melihat ruangan disebelah kanan tangga, sudah ada kuliah juga. Beberapa ruang kuliah ukuran kecil juga sudah ada kuliah. Saya semakin takut. Dua orang mahasiswa tadi tetap cuek.
Daripada saya penasaran, maka akhirnya saya memberanikan diri untuk langsung masuk keruangan yang disebelah kanan tangga. Langsung saja saya ketuk pintu ruangan tersebut. Konsentrasi kelas buyar, perhatian semua manusia diruangan tersebut tertuju pada saya. Saya buka sedikit pintunya lalu bertanya pada dosen yang sedang mengajar saat itu. “permisi pak… apa ini kuliah manajemen kelas B?”. Ternyata pak dosen tersebut juga tidak tahu, dia malah menoleh ke mahasiswanya. Salah satu mahasiswa kemudian ada yang menyahut. “bukan mas, ini kelas A…”. Tentu saja saya langsung minta maaf, menutup kembali pintu dan meninggalkan kelas tersebut. Saya malu sekali. Beberapa mahasiswa diruangan tersebut ada yang tersenyum simpul melihat kelakuan saya. Hari pertama kuliah saya dihiasi dengan adegan yang ngisin-ngisini. Anehnya dua mahasiswa yang duduk-duduk tadi tetap cuek.
Saya menyesal dengan keputusan tersebut. Saya menyesal mengapa saya tidak bertanya dulu pada dua mahasiswa yang duduk-duduk itu. Langsung saja dekati mereka dan menanyakan mereka dari kelas mana dan mau kuliah apa sore ini. Dan benar saja ternyata mereka adalah mahasiswa yang nantinya akan sekelas dengan saya. Senang juga akhirnya nemu teman. Tapi saya tetap sebel dengan sikap cuek mereka.
Beberapa menit berlalu. Dari yang awalnya cuma saya dan dua orang tadi, sekarang sudah ada sekitar tujuh orang mahasiswa yang ikutan ngobrol-ngobrol didepan tangga. Semuanya sama, mahasiswa semester 1 kelas B. Sampai sekitar pukul 3.30, itu berarti sudah lewat 30 menit dari jadwal kuliah, dosen belum juga datang. Akhirnya ada yang mengusulkan untuk kita menunggu di ruangan kelas saja. Kamipun masuk diruangan yang bernama ruang PPS.02 tersebut yang ternyata terletak disebelah kiri tangga.
Masuk ke ruangan PPS.02, maka inilah untuk pertama kalinya saya memasuki ruang kuliah setelah beberapa lama tidak kuliah. Ruangan PPS.02 ini termasuk satu diantara dua ruangan kuliah berukuran sedang yang ada di lantai 3. Ruangan kuliah berukuran sedang satunya adalah ruangan yang sukses membuat saya malu berat beberapa saat sebelumnya. Ruangan ini menurut saya sebenarnya lumayan besar, kalau untuk 25 orang saja pasti masih cukup. Namun sayangnya untuk ruangan seluas itu hanya ada 1 buah AC.
Seperti lazimnya sebuah ruang perkuliahan, apa yang ada didalamnya tidak berbeda dari ruang kuliah pada umumnya. Sebuah white board di sisi depan ruangan. Sekitar 20 bangku kuliah. Sebuah meja untuk dosen dan…. aha… ini dia yang spesial. Tepat disebelah meja dosen ada 3/4 set komputer plus infocus projector. Kenapa cuma 3/4 set saja?. Karena cuma ada CPU, keyboard dan mouse. Tanpa monitor. Kenapa tanpa monitor?. Karena sudah ada infocus projector. Infocus projector ini berfungsi memproyeksikan gambar yang biasanya ditampilkan oleh monitor ke dinding di sebelah white board. Jadi peran monitor digantikan oleh kolaborasi antara infocus projector dan dinding kelas.
Saat menunggu didalam kelaspun, ada ceritanya. Bermula saat kami lagi asyik mengobrol, tiba-tiba ada seorang laki-laki setengah baya yang masuk kekelas kami. Laki-laki tersebut membawa tas kerja warna hitam dan membawa map plastik berwarna kuning. Kamipun mengira bahwa laki-laki inilah dosen yang akan mengajar kami. Obrolan terhenti seketika, kami semua terdiam, langsung anteng kata orang Jawa. Kelakuakn kami persis siswa SD yang kelasnya kedatangan guru secara tiba-tiba. Lalu kemudian…
“ Maaf ruangan ini dipakai kuliah nggak ?” laki-laki tersebut bertanya pada kami.
Salah satu dari kami kemudian menjawab. “ dosennya masih belum datang pak, nanti kalau sudah datang ya dipakai… “.
Lalu kemudian dengan entengnya laki-laki tersebut berkata. “ Oooo gitu… kalo gitu saya tukar ruangan ya… ini mahasiswa saya agak banyak ruangannya nggak cukup… “.
Selama sepersekian detik kami saling pandang. Lalu tanpa banyak bicara kami keluar dari ruangan tersebut. Kami senyam-senyum ketawa-ketiwi mentertawakan nasib kami sendiri. Disaat kelas yang lain sudah pada asyik kuliah. Kami masih terkatung-katung tidak jelas nasibnya. Bahkan diusir dari ruang kelas kami sendiri. Salah satu teman saya bahkan punya ide untuk patungan beli spanduk untuk demo.
Akhirnya kami kembali ke tempat duduk yang tadi, yaitu tepat didepan tangga. Tidak ada lagi ruang kelas yang “menganggur” yang bisa menampung kami sore itu, semuanya dipakai kegiatan kuliah. Cukup lama kami menunggu, sampai akhirnya berinsiatif untuk menanyakan ke pihak akademis. Saya dan dua teman saya akhirnya turun ke lantai 1 untuk menanyakan ke pihak akademis. Setelah kami laporkan apa yang tejadi, pihak akdemis hanya bilang…. “iya mas, sebentar lagi saya telepon dosennya…”.
Entah jimat apa yang lupa kami bawa sampai nasib kami sesial ini. Tidak lama kemudian pihak akademis mengatakan kepada kami bahwa kedua dosen pengajar mata kuliah manajemen keuangan tidak bisa mengajar sore ini. Yang satu sedang diluar kota, satunya lagi malah tidak bisa dihubungi.
Saya dan kedua teman sayapun kembali ke lantai 3 untuk memberitahukan kepada teman-teman yang lain. Begitu diberitahu, bukannya marah atau bagaimana, kami semua justru ketawa-ketiwi mentertawakan nasib kami sendiri. Usulan mengenai patungan membeli spanduk demo kembali mengemuka. Tidak lama kemudian salah seorang diantara kami mengusulkan untuk memajukan kuliah jam kedua, agar waktu tidak terbuang percuma dan kami bisa pulang lebih awal.
Saya bersama kedua teman saya kembali turun ke lantai 1. Setelah melaporkan hasil “rapat” kepada pihak akademis, mereka ternyata tidak bisa membuat keputusan. “terserah dosennya mas, kalo mereka bisa dan mau ya nggak apa-apa….” Begitu katanya. Untungnya tidak lama kemudian datanglah dosen yang dimaksud. Setelah berdiskusi sejenak akhirnya sang dosen bersedia untuk memajukan jadwal kuliah jam kedua. Kami semua bersorak karena “akhirnya kuliah juga”.
Saya, kedua teman saya dan pak dosen kami akhirnya naik ke lantai 3. Namun ternyata “penderitaan masih belum selesai”. Sampai di lantai 3 kami kembali dihadapkan pada kondisi yang tidak menyenangkan. Kami kehabisan ruang kuliah. Semua ruang kuliah telah terpakai. Akhirnya kami turun ke lantai 2 dan mencari ruangan kuliah yang “menganggur”. Dan alhamdulilah nemu. Tepat didepan tangga lantai 2 ada ruang kuliah yang kosong.
Ruang kuliah ini bisa dibilang bersejarah, karena ruang inilah yang menjadi saksi kuliah perdana saya dan teman-teman saya. Tapi bila melihat kondisi ruangannya, jelas kurang asoy bila untuk sebuah peristiwa yang bersejarah. Menurut saya, ruangan ini seperti ruang kuliah darurat. Memang sudah ada whiteboard, sejumlah bangku kuliah dan meja untuk dosen. Namun tidak ada secuilpun perangkat komputer disini. Bau cat yang masih tercium juga membuat suasana ruangan ini semakin dramatis saja. Dan yang paling bikin seru adalah tidak adanya pendingin ruangan alias AC diruangan ini. Yang ada hanya sebuah “peng–isis ruangan” alias kipas angin berdiri. Itupun cuma satu.
Aktivitas kuliahpun berjalan santai. Dosen kami hanya memperkenalkan diri dan membahas secara garis besar tentang mata kuliah yang beliau ajarkan. Nama dosennya adalah Pak Kamarul Imam, beliau adalah salah satu dosen senior di kalangan fakultas maupun universitas. Sedangkan mata kuliahnya adalah metode kuantitatif, sebuah mata kuliah penuh “itung-itungan”.
Pukul 5.30, bertepatan dengan adzan Maghrib, karena memang lagi bulan puasa, kuliah diakhiri. Kami semuapun pulang kerumah masing-masing. Sebelum pulang, saya menyempatkan menelepon teman saya untuk mohon maaf karena saya tidak bisa menghadiri acara buka bersama.
Begitulah yang terjadi dengan kuliah perdana saya. Sekilas memang jauh dari harapan, tapi tetap semuanya tak terlupakan. Sekilas memang bikin kesel, tapi itulah yang membuatnya menjadi unforgetable. Dan memang benar, saat itu saya belum merasakan pengalaman-pengalaman yang “mendebarkan”. Tapi itu semua memang belum saatnya, karena saya mungkin belum siap dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Saya anggap, begitulah cara Tuhan agar saya tidak pernah lupa dengan saat pertama saya kuliah. Tuhan memang Maha Mengatur, segalanya telah diatur sesuai dengan waktunya.
Nah temanku….. itu tadi baru kuliah perdana, belum yang lain. Insya Allah besok-besok akan ada lagi tulisan yang asik-asik dari kegiatan kuliah saya. Mulai dari teman-teman kuliah saya yang aneh-aneh, dosen-dosen yang “unik” dan tentu saja pengalaman-pengalaman yang “mendebarkan”. Jangan lewatkan.
Komentar»
No comments yet — be the first.