jump to navigation

Seri Kuliah Lagi – Pertemuan Kedua November 25, 2009

Posted by sony heradi in Kuliah Lagi - The Series.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Kuliah pertemuan kedua dalam sejarah, setelah lama tidak kuliah. Disini mulai asoy. Yang seru-seru, yang asik-asik, yang mendebarkan, yang bikin pusing sudah mulai ada. Hari-hari kuliah saya mulai berwarna-warni dan akan semakin semarak pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Saya jadi bersemangat sekali.

Minggu tanggal 13 September 2009 atau 23 Ramadhan 1430 H. Itulah jadwal pertemuan kedua dalam sejarah kuliah saya, setelah lama tidak kuliah. Kok… hari Minggu kuliah?. Itu karena memang saya ambil program eksekutif alias pogram kuliah Sabtu – Minggu. Jadi jadwal kuliah saya adalah hari Sabtu sore dimulai dari jam 3.00 sore sampai selesai jam 7.30 malam dan hari Minggu mulai jam 8.00 pagi sampai jam 4.30 sore. Program ini memang diperuntukkan bagi mahasiswa yang sudah bekerja, sehingga diambil waktu kuliah hari sabtu dan minggu. Itulah kenapa namanya adalah program eksekutif.

Minggu pagi, saya berangkat agak pagi biar tidak terlambat. Sampai dikampus saya langsung bergegas naik ke lantai 3, menuju ruang PPS.02, ruang kelas saya. Sampai disana, saya lihat beberapa teman sudah berada didalam ruangan. Hari itu jadwal kuliah saya adalah sebagai berikut : jam pertama Manajemen Operasional lalu dilanjutkan dengan Manajemen Pemasaran kemudian istirahat. Setelah istirahat sampai jam 1.00 siang dilanjutkan dengan kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia dan jam terakhir adalah Sistem Informasi Manajemen, begitulah yang tertera dijadwal yang ditempel di papan informasi.

Sayapun menunggu diruang kelas, sambil mengobrol dengan teman-teman baru saya. Berkenalan, tanya dari mana, kerja dimana, dulu kuliahnya dimana sampai bertukar nomor handphone, itulah yang saya lakukan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8.30, sudah setengah jam kami menunggu dosen. Ruangan kuliah yang lain satu persatu sudah ada perkuliahan. Para mahasiswa yang tadinya ngobrol di lobi lantai satu maupun di lorong-lorong sekitar kelas kami semuanya sudah pada kuliah. Tinggal kami yang belum. Rupanya jimatnya ada yang ketinggalan lagi.

Saya dan salah satu teman saya yang bernama Pak Hadi akhirnya memutuskan untuk menanyakan ke pihak akademik. Sampai diruang akademik, hanya ada satu orang petugas akademik, tidak ada satupun dosen disana. Sesuai dengan jadwal kuliah, jam pertama adalah adalah mata kuliah manajemen operasional yang diajar oleh Pak Kamarul Imam, dosen yang mengajar kami pada Sabtu sore sebelumnya sekaligus satu-satunya dosen yang kami tahu. Pak Hadipun menanyakan ke akademik apakah Pak Kamarul (panggilan akrab Pak Kamarul Imam) sudah datang. Pihak akademik hanya memberikan nomor HP Pak Kamarul, kami disuruh menelepon sendiri. Pak Hadi segera menelpon Pak Kamarul.

Setelah ditelepon, yang terjadi sungguh diluar dugaan kami. Pak Kamarul berkata bahwa dia akan mengajar kelas B (kelas saya) jam 2.30 sore alias jam terakhir. “kalau dijadwal yang saya pegang, saya mengajar kelas B jam setengah tiga sore nanti, tapi sebentar lagi saya berangkat kekampus….” begitu kata beliau. Mampus dah, apa lagi ini?. Saya dan Pak Hadi kembali mengkonfirmasi ke pihak akademik. Pihak akademik angkat tangan. Mereka menyarankan agar kita menunggu Pak Kamarul saja, karena beliau juga menjabat sebagai sekretaris jurusan manajemen, beliaulah yang bertanggung jawab atas kelangsungan perkuliahan termasuk masalah jadwal kuliah. Pihak akademik juga menyarankan agar kelas kami memilih ketua kelas agar bisa lebih mudah berkoordinasi dengan akademik maupun dosen.

Saya berdiskusi sebentar dengan Pak Hadi. Akhirnya diputuskan bahwa jam pertama kosong dan waktu kosong tersebut digunakan untuk memilih ketua kelas. Kami segera naik ke lantai tiga menuju ruang kelas kami. Hasil dari “pertemuan” dengan pihak akademik diberitahukan kepada teman-teman yang lain oleh Pak Hadi. Seperti sebelumnya, bukannya marah atau bagaimana, kami semua justru ketawa-ketiwi mentertawakan nasib sial kami. Dari situ juga disepakati bahwa waktu kosong akan dipakai untuk memilih ketua kelas.

Secara aklamasi. Sebenarnya teman-teman sepakat untuk memilih Pak Hadi sebagai ketua kelas. Dari sisi usia, Pak Hadi termasuk yang tertua diantara kami. Selain itu  secara wibawa beliau pantas menjadi ketua kami. Namun dengan halus dan sedikit bercanda Pak Hadi menolak jabatan tersebut. Beliau menyarankan agar masing-masing kita memperkenalkan diri, mulai dari nama, alamat rumah, tempat kerja dan jam kerja. Dari situ diharapkan dapat terpilih ketua yang berdomisili terdekat dengan kampus dan memiliki wakktu yang cukup untuk kekampus bila diperlukan.

Maka dimulailah acara saling memperkenalkan diri. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri dan masing-masing berusaha untuk terlihat sebagai orang yang sibuk agar tidak terpilih jadi ketua kelas (termasuk saya). Tidak ada yang dengan ikhlas dan sukarela mau mengemban tugas mulia tersebut. Kalau sudah urusan tugas dan tanggung jawab, bukannya mengacungkan tangan tapi justru menunjuk orang lain. Indonesia banget.

Dan karena semuanya memang orang sibuk atau minimal “kelihatannya” sibuk, maka diputuskan untuk dilakukan voting. Salah satu teman saya yang bernama Mbak Nenny yang jadi KPU. Mbak Nenny mempersiapkan “surat suara” yang hanya berupa kertas yang disobek kecil-kecil. Masing-masing dari kami menuliskan siapa nama ketua kelas yang dipilih, lalu dihitung dan yang paling banyak pemilihnya dialah yang jadi ketua kelas.

Rupanya hari itu saya sedang beruntung (atau sial). Lima dari total dua belas surat suara tertulis nama saya. Hampir separuh dari kelas menghendaki saya jadi ketua kelas, sisanya terbagi pada beberapa nama. Sayapun tidak bisa berbuat apa-apa. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus bisa menerima keputusan rakyat. Teman-teman saya beranggapan bahwa rumah saya paling dekat dengan kampus (emang bener) jadi saya punya kesempatan yang relatif banyak untuk kekampus. Segera setelah terpilih, saya didaulat untuk menyapaikan pidato kenegaraan untuk pertama kalinya.

” …. eeehh… sebelumnya… terima kasih teman-teman sudah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjadi ketua kelas…. ”

Plok plok plok plok plok plok plok hweeeeeeeeiiiiii……. Entah siapa yang memulai tiba-tiba tepuk tangan dan teriakan membahana diseluruh ruangan kelas.

” …. begini teman-teman… kalau menurut informasi dari akademik, tugas ketua kelas itu sebenarnya gampang-gampang susah. Yang paling susah sebenarnya ya cuma menghubungi dosen kalo dosennya ga dateng, itupun sebenernya juga nggak terlalu susah. Lagian masak setiap mau kuliah dosennya harus dihubungi dulu….. ”

Teman-teman saya manggut-manggut semua.

” ….. tapi begini teman-teman… walaupun rumah saya deket dari kampus, tetap saja ada kemungkinan saya tidak masuk kuliah. Yaa.. entah karena sakit atau mungkin ada keperluan yang tidak bisa ditinggal. Jadi menurut saya… labih baik kalo ada semacam wakil ketua kelas atau sekretaris gitu. Maksudnya ya kalo pas saya nggak masuk ada yang back up gitu…. ” ujar saya panjang lebar.

” saya sependapat sama Pak Sony…. tapi begini temen-temen, yang paling penting di kelas kita itu harus kompak, nggak perlu menang-menangan atau pinter-pinteran, semuanya pinter. Yang penting kita masuk kuliah bareng-bareng nanti lulus wisuda bareng-bareng juga, enak toh….. ” Mbak Nenny dengan penuh semangat mengutarakan pendapatnya.

Kami semua manggut-manggut lagi. Kali ini termasuk saya.

” kalo masalah menghubungi akademik atau dosen ya Pak Sony…. sebenarnya kami semua siap melakukan kalo pas sampeyan lagi nggak dateng kuliah. Tapi saya setuju kalo harus ada yang jadi sektetaris, biar sampeyan ada temennya. Temen-temen yang lain gimana??? ” ujar Mbak Nenny panjang lebar.

Kami manggut-manggut lagi.

” iya mas… saya setuju sama mbak ini, sapa namanya ?? ” Pak Hadi berkomentar.

” Saya Nenny pak, kerja di bank sekaligus ibu rumah tangga…. ” jawab mbak Nenny.

” ….menghubungi akademik atau dosen itu urusan gampang mas, sampeyan jangan khawatir. Cuma kalo misalnya besok-besok kelas kita butuh koordinasi misalnya kalo ada tugas, ya sampeyan yang mengkoordinasi dibantu sama sekeretaris.. ” lanjut Pak Hadi.

” Baik kalo begitu sekalian kita pilih aja sapa yang jadi sekretaris, mau voting lagi apa gimana nih?? ” akhirnya saya tegaskan untuk segera ditentukan siapa sekretarisnya.

” voting kesuwen mas, sampeyan aja tunjuk langsung. Enaknya yang perempuan aja, soalnya kalo perempuan itu luwes jadi gampang meluluhkan hati dosen… ” usul Pak Hadi.

Terang saja usul Pak Hadi ini disambut tawa seisi kelas tapi ada satu yang mengacungkan tangan.

” …. Kalo masalah luwes oke saya setuju kalo perempuan lebih luwes. Tapi saya lebih setuju lagi kalo yang jadi sekretaris itu yang masih single, belum berkeluarga. Soalnya kalo yang sudah berkeluarga itu susah ngatur waktunya pak, pulang kerja udah Maghrib abis itu ya ngurusin yang dirumah. Saya takutnya urusan jadi sekretaris ini malah nggak terurus. Lha ngerjain tugas aja kita nyuri-nyuri waktu. Nah kalo yang masih single kan enak, waktunya relatif longgar…. ” usul mbak Nenny.

”… sampeyan dari partai mana mbak?? ” celetuk Pak Hadi, kelas tertawa lagi.

” oke jadi gimana nih?? ga jadi voting?? ” sayapun hraus menengahi.

” ini aja pak.. mbak ini aja… ” mbak Nenny dengan penuh semangat menunjuk Mbak Diani yang duduk tepat dibelakangnya. Yang ditunjuk kelabakan.

”  mbak ini kan masih belum keluarga, jadi waktunya agak banyak… ya mbak ya? sampeyan aja ya jadi sekretaris…. ” mbak Nenny semakin berapi-api. Yang ditunjuk semakin kelabakan.

” lhoh lhoh lhoh…. yaaa… emang saya belum berkeluarga, tapi rumah saya jauh, di Situbondo…. ” jawab mbak Diani sambil masih kelabakan.

” nggak masalah mbak, nanti kami semua bantu kok, jangan khawatir…. ” Mbak Nenny semakin bersemangat. Yang lain ketawa.

” iya wis mbak sampeyan aja, lagian tugasnya sekretaris lho ngapain??. Kalo cuma nelpon dosen biar mbak yang cerewet ini aja…. ” Pak Hadi kembali nyeletuk. Kelas semakin ramai, Mbak Nenny hanya senyam-senyum saja.

” Ya sudah…. gimana mbak Diani, sanggup nggak jadi sekretaris ?? ” saya memastikan lagi kesediaan Mbak Diani. Belum sempat Mbak Diani menjawab…

” iya setuju pak setuju… iya mbak ya setuju yaa… temen-temen yang laen setuju semua yaaaaaa…. ” Mbak Nenny kembali beraksi. Tentu saja seisi kelas kembali tertawa.

” iya sudah kalo gitu, saya jadi sekretaris. Tapi nanti dibantuin ya kalo ada apa-apa… ” akhirnya Mbak Diani menyetujui walau ada ultimatum dibelakang. Kelas terbahak-bahak sambil bertepuk tangan, tentu saja tetap Mbak Nenny yang paling semangat.

Dan… akhirnya terpilihlah sudah persiden dan wakil persiden republik manajemen kelas B. Saya sebagai persidennya dan mbak Diani sebagai wakil persidennya. ”Jabatan” ini tentu saja menjadi warna tersendiri dalam perjalanan kuliah saya. Warna yang paling cerah, setidaknya sampai pertemuan yang kedua ini. Saya percaya ”jabatan” ini akan memberi warna-warna keren yang lain dalam perjalanan kuliah saya.

Sementara itu.. jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Berarti jam pertama telah berakhir dan masuklah pada jam kedua. Kami semua masih setia menunggu dosen untuk mata kuliah jam kedua dimana menurut jadwal adalah mata kuliah Manajemen Pemasaran.

Setengah jam kemudian, dosen belum juga datang. Tapi kami mulai terbiasa dengan keterlambatan ini. Sampai akhirnya…

” Pak Ketua… sudah jam setengah sebelas ini, dosennya masih belum dateng. Laksanakan tugasmu….. ” kata Pak Hadi sambil tersenyum dan menepuk pundak saya.

Maka inilah tugas pertama saya sebagai seorang persiden, menghubungi dosen mata kuliah manajemen pemasaran. Sayapun bergegas turun ke lantai 1, menuju ruang akademik. Sampai diruang akademik, kebetulan sekali Pak Kamarul baru saja datang. Langsung saja saya mengkonfirmasikan tentang kesalahan jadwal yang terjadi tadi pagi.

” sampeyan dari kelas B ?? ” Pak Kamarul bertanya sama saya.

” Iya Pak…. ”

” sudah dipilih koordinatornya ?? ”

” sudah pak, saya yang kepilih… ”

” ini kayaknya ada kesalahan jadwal ya… dijadwal yang saya pegang itu saya ngajar Operasional kelas B nanti jam terakhir. Tapi tadi saya ditelepon katanya dijadwal mahasiswa itu jam pertama. Sampeyan liat jadwal dimana ?? ” kata Pak Kamarul dengan agak bingung.

” saya dapat jadwal dari papan informasi yang didepan itu pak…. ”

” oh dimana ? Coba kita lihat….. ” ujar Pak Kamarul. Kamipun menuju ke papan informasi yang teletak didekat pintu masuk kampus. Sesampainya disana….

” waaaahh ini dia kebalik nih… seharusnya jam pertama kelas B itu sistem informasi manajemen terus jam terakhirnya mata kuliah saya, manajemen operasional. Ini sapa sih yang masang jadwal ?? ” Pak Kamarul menggerutu setelah melihat jadwal yang terpasang di papan informasi ternyata ada yang salah.

” jadi jadwal yang bener yang punya bapak ?? ” saya memastikan.

” iya… yang bener yang saya pegang ini. Memang kemaren ada revisi, tapi jadinya malah kebalik begini. Nggak beres yang masang ini… ” Pak Kamarul masih sewot.

” iya sudah pak… berarti jam pertama sama jam terakhir terbalik ya pak ?? ”

” iya terbalik… tolong sampaikan ke temen-temennya ya… ”

” baik pak, nanti teman-teman saya beritahu.. ”.

Alhamdulillah. Satu masalah terselesaikan, tinggal satu lagi. Menghubungi dosen manajemen pemasaran. Sayapun kembali ke ruang akademik, menanyakan apakah dosennya sudah datang.

Saya hanya punya bekal nama dua orang dosen yang mengajar. Yang pertama namanya adalah Prof.Andi Sularso dan satunya adalah Dr.Imam Suroso. Kok dosennya ada dua ??. Setiap mata kuliah sebenarnya memang dipegang oleh dua orang dosen. Salah satu dosen tersebut bertindak sebagai dosen koordinator. Biasanya dari dua orang dosen tersebut sudah ada pembagian sendiri mengenai jadwal mengajarnya, yang jelas masing-masing dapat jam mengajar yang sama. Pembagian jam mengajar biasanya dibagi menjadi dua, yaitu sebelum dan sesudah ujian tengah semester. Jadi setelah ujian tengah semester akan ada pergantian dosen.

Masalahnya sekarang adalah saya tidak tahu siapa yang mengajar duluan. Prof.Andi atau Pak Imam Suroso ?. Dan satu lagi saya tidak pernah tahu kedua dosen tersebut, jadi saya tidak tahu mereka berdua ”wujudnya” seperti apa. Prof.Andi memang yang jadi dosen koordinatornya, tapi belum tentu kalau beliau yang mengajar duluan. Saya tanya pihak akademik, mereka tidak tahu juga. Mantap. Akhirnya saya hanya diberi nomer handphone Prof.Andi, saya disuruh nelpon sendiri.

Segera saya telpon Prof.Andi. Dan hasilnya adalah hari itu yang mengajar adalah Pak Imam Suroso, Prof.Andi lagi diluar kota. Sayapun kembali ke akademik, kali ini menanyakan Pak Imam Suroso sudah dateng apa belum. Ternyata Pak Imam Suroso belum dateng. Saya hanya diberi nomer handphone Pak Imam Suroso, suruh nelpon sendiri lagi.

Langsung saja saya menghubungi nomer yang diberi tadi.

Tuuuut…. tuuuuuutt…. tuuuuuut…. Tidak diangkat. Saya coba sekali lagi.

Tuuuut…. tuuuuuuutt…. ceklek…. Akhirnya diangkat

” Hallo Assalamualaikum… apa ini benar dengan Pak Imam Suroso ?”. saya membuka pembicaraan.

” kemresek kemresek kemresek….. ” saya hanya dijawab suara tidak jelas, seperti tidak dapat sinyal.

” Hallo Assalamuaikum…. ” saya kembali mencoba berbicara. Tapi saya hanya dijawab dengan suara tidak jelas yang sama. Saya matikan, lalu saya telpon lagi, kali ini saya mencoba keluar ruangan, dihalaman kampus, siapa tahu bisa.

Tuuuuuuutt… tuuuuuuuutt… ceklek… Diangkat lagi.

” Hallo Assalamualaikum…. ”

Kembali saya dijawab oleh suara tidak jelas. Akhirnya saya berkesimpulan mungkin Pak Imam Suroso sedang dalam perjalanan, makanya sinyalnya kurang jelas. Sayapun konfirmasi lagi ke akademik. Dan jawabannya adalah….

” oh sudah naik dik, barusan Pak Imam Suroso sudah naik ke lantai tiga….. ”

Dengan ekspresi polos tanpa dosa, petugas akademik berkata seperti itu. Saya hanya bisa melongo. Berbagai macam perasaan semua jadi satu dalam hati. Dalam hati saya berkata… INI YANG GOBLOK SEBENERNYA SAPA SIH ??.

Yahhh…. tugas pertama saya sebagai persiden republik manajemen kelas B berakhir dengan nggeletek alias konyol. Tapi nggak apa-apalah, yang penting semuanya beres dan akhirnya kami bisa kuliah.

Sayapun bergegas naik ke lantai tiga, menuju ruang kelas. Sesampainya dikelas, Pak Imam Suroso sudah didalam kelas. Kuliahpun dimulai. Entah karena kuliah pertama atau bagaimana, kuliah berjalan sangat santai. Pak Imam Suroso hanya memperkenalkan diri dan membahas secara garis besar mata kuliah yang akan beliau ajarkan termasuk kriteria penilaian dan tugas-tugas yang akan diberikan. Setelah itu, beliau membahas tentang hal yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah manajemen pemasaran tapi sangat berguna bagi kami para mahasiswa. Beliau membahas tata cara membuat tesis dan tips keren bagaimana bisa lulus tepat waktu. Tentu saja materi ini sangat bermanfaat bagi kami. Setelah itu, selesai. Beliau undur diri, kuliah jam kedua telah usai. Waktunya istirahat siang.

Waktu istirahatnya lumayan panjang, sampai jam 1.00 siang. Waktu panjang itu biasanya kami gunakan untuk sholat Dhuhur dan makan siang, tapi karena saat itu sedang bulan puasa, maka sehabis sholat kami leyeh-leyeh saja didalam kelas. Sekedar informasi, untuk program eksekutif kita dapat jatah makan. Itulah sebabnya SPPnya lebih mahal. Untuk kuliah hari sabtu, jatah makan diberikan menjelang Maghrib, tepatnya saat pergantian jam perkuliahan. Sedangkan pada hari minggu diberikan saat break siang atau setelah jam kedua berakhir. Selain makan, untuk kelas eksekutif ada fasilitas AWM alias Anjungan Wedang Mandiri. AWM adalah fasilitas bagi mahasiswa untuk membuat kopi atau teh sendiri. Disediakan dua buah dispenser, puluhan cangkir dan ada teh celup serta kopi bubuk lengkap dengan gulanya tentu saja. Jadi sembari menunggu dosen mahasiswa bisa nyantai sejenak sambil ngopi atau ngeteh.

Jam menunjukkan tepat pukul 1.00 siang, saya dan teman-teman kembali masuk keruangan kelas kami. Sesuai jadwal jam ketiga adalah mata kuliah manajemen sumber daya manusia. Dalam hati saya berharap agar dosen mata kuliah orangnya agak atraktif, sukur-sukur kalo humoris. Kenapa? Kuliah siang hari dibulan puasa sangat berpotensi membuat orang mengantuk. Apalagi mata kuliahnya adalah manajemen sumber daya manusia, sebuah mata kuliah yang ”penuh pengertian” alias banyak teori. Maka diperlukan dosen yang atraktif agar kelas bisa ”hidup” dan tidak jadi mengantuk.

Belum genap sepuluh menit kami menunggu, pak dosen sudah datang. Sepintas kalo melihat dari fisik beliau, pak dosen ini kelihatannya sabar, nggak macem-macem dan disiplin. Namanya adalah Pak Budi. Menurut info yang saya tahu, beliau adalah salah satu dosen senior di pasca sarjana dan dari dulu kompetensi beliau memang dibidang sumber daya manusia. Kelas kami beruntung sekali.

Perjalanan kuliah berjalan agak serius, itu kalo saya bandingkan dengan beberapa kuliah yang sudah kami jalani yang umumnya berisi perkenalan dosen dan garis besar mata kuliah. Untuk kuliah kali ini, Pak Budi hanya berkenalan sebentar dan langsung tancap gas pada bab pertama. Dan seperti yang saya duga mata kuliah ini adalah mata kuliah yang  banyak teori. Kita harus banyak menghapal dan pandai berargumentasi. Dan (lagi) harapan saya untuk mendapatkan kuliah yang ”hidup” kandas sudah. Kuliah berjalan sangat monoton dengan mendengarkan Pak Budi berceramah. Setelah sekitar 45 menit berlalu, saya lihat hampir separuh kelas matanya merah menahan kantuk, termasuk saya. Tak terhitung lagi mulut yang menganga lebar karena menguap. Kamipun hanya bisa terdiam  dan mendengarkan, bahkan saat Pak Budi menawari ” ada pertanyaan..?? ”.

Dalam hati saya berkata bahwa kuliah ini harus dibuat model diskusi, supaya lebih atraktif, lebih hidup. Kalau hanya mendengarkan dosen yang berceramah, yang ada adalah mengantuk. Dan sepertinya kata hati saya didengarkan oleh malaikat, disampaikan kepada Tuhan dan dikabulkan. Sesaat sebelum kuliah berakhir, Pak Budi membagi kami menjadi beberapa kelompok diskusi. Masing-masing kelompok mendapatkan satu materi yang harus dipresentasikan dan didiskusikan pada setiap kuliah Pak Budi. Saat itu juga Pak Budi menentukan materi untuk tiap kelompok beserta jadwal presentasi masing-masing kelompok. Setelah itu, menjelang Ashar kuliah diakhiri.

Menunggu kuliah jam terakhir. Kami sholat Ashar dulu di mushola yang terletak disisi selatan lantai 3. Kuliah jam terakhir adalah manajemen operasional yang akan diajar oleh Pak Kamarul. Dan sebelum kami selesai kami sholat Ashar, beliau sudah datang. Sepertinya beliau memahami bahwa kami ingin cepat-cepat pulang. Atau justru beliau yang ingin cepat-cepat pulang.

Kuliah berjalan santai namun tetap serius. Sepertinya memang beginilah gaya mengajar Pak Kamarul. Materi diajarkan dengan sangat sangat jelas namun kuliah tetap berjalan santai, tidak tegang. Pak Kamarul menerangkan sebuah model analisis manajemen seakan beliau yang menciptakan model analisis tersebut. Kalau dosen lain, mungkin hanya akan menjelaskan cara kerja model tersebut. Pak Kamarul menjelaskan semuanya. Mulai dari cara kerja, latar belakang model analisis tersebut, memberikan langkah tercepat menyelesaikan persoalan plus contoh nyata dalam level praktek. Hebatnya semua berjalan dalam keadaan santai namun kami semua tetap bisa memahami apa yang beliau ajarkan. Itu membuktikan beliau sudah hapal luar biasa dengan materi tersebut. Bahkan ditengah-tengah penjelasan beliau bisa menyelipkan obrolan santai diluar materi, seperti kritik terhadap pemerintah, cerita pengalaman pribadi dan tentu saja guyonan segar. Menurut saya gaya mengajar seperti ini hanya bisa dilakukan oleh dosen dengan jam terbang tinggi.

Jam 4.30 kurang sedikit, kuliah diakhiri. Capek memang, tapi saya senang. Senang sekali.

Hari itu, Minggu tanggal 13 September 2009 atau 23 Ramadhan 1430 H. Hari pertemuan kedua dalam sejarah kuliah lagi berjalan dengan penuh warna. Terpilih menjadi persiden republik manajemen kelas B, tugas dinas negara yang berakhir konyol dan tentu saja pengalaman kuliah yang seru membuat hari itu jadi warna-warni. Dan aha… hampir saja saya lupa. Hari itu saya mendapatkan tiga nomor handphone dosen sekaligus. Pak Kamarul, Prof. Andi Sularso dan Dr.Imam Suroso, ketiganya adalah dosen senior dan pakar dibidang masing-masing. Saya beruntung sekali. Dan tentu saja ini adalah warna yang sangat keren dalam perjalanan kuliah saya.

Komentar»

No comments yet — be the first.