<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>A la Sony</title>
	<atom:link href="http://sonyheradi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sonyheradi.wordpress.com</link>
	<description>Hidup A La Sony</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 12:26:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sonyheradi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>A la Sony</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sonyheradi.wordpress.com/osd.xml" title="A la Sony" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sonyheradi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Setelah Setahun&#8230;.</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/30/setelah-setahun/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/30/setelah-setahun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan sony]]></category>
		<category><![CDATA[andrea hirata]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[jonru]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulis hebat]]></category>
		<category><![CDATA[penulis sukses]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah menulis online]]></category>
		<category><![CDATA[umar kayam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Saya baru sadar kalau ternyata sudah sekitar setahun ini saya menulis. Tidak banyak memang tulisan yang sudah saya buat, sebagian besar hasilnya malah aneh sekali. Tapi aneh biarlah aneh. Karena seaneh apapun tulisan saya, tetap saja akan ada yang mau membaca tulisan saya. Yaitu SAYA SENDIRI. Dan herannya walaupun tulisan saya banyak yang aneh, nyatanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=80&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saya baru sadar kalau ternyata sudah sekitar setahun ini saya menulis. Tidak banyak memang tulisan yang sudah saya buat, sebagian besar hasilnya malah aneh sekali. Tapi aneh biarlah aneh. Karena seaneh apapun tulisan saya, tetap saja akan ada yang mau membaca tulisan saya. Yaitu SAYA SENDIRI. Dan herannya walaupun tulisan saya banyak yang aneh, nyatanya ya masih ada orang yang mau membaca (selain saya sendiri tentunya). Semoga mereka tidak ketularan aneh seperti saya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-80"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya. Semua ini adalah gara-gara perbuatan dua orang ini. Kedua orang itu adalah Alm.Umar Kayam dan Andrea Hirata. Gara-gara dua orang ini akhirnya saya jadi kayak gini. Gara-gara <em>mbaca</em> buku karya dua orang ini saya akhirnya kepingin ikutan nulis-nulis juga. Dan akhirnya sayapun mulai menulis dikit-dikit. Dikit dikit dikit dikit dikit teruuuuuuuuuuuuusss akhirnya&#8230; tetep tidak banyak. Tapi dari yang tidak banyak itu saya puas dan saya ketagihan. Saya tidak mau berhenti nulis (kecuali lagi males).</p>
<p style="text-align:justify;">Diawal saya mulai menulis, saya ya hanya asal menulis. Apa saja yang sedang berkelebat dibenak saya, itulah yang saya tulis. Pas lagi mikir tentang kondisi ekonomi (kebetulan background pendidikan saya ekonomi, jadi saya ngerti dikit-dikit lah) maka jadilah tulisan bertema ekonomi, saat lagi ingat Tuhan Yang Maha Pemurah maka jadilah tulisan bertema spiritualisme, saat lagi ada ide cerpen jadilah cerpen dan saat lagi tidak ada ide maka jadilah sebuah tulisan narsis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada awalnya saya juga tidak punya media untuk “memajang” atau “memamerkan” atau “mempromosikan” tulisan saya. Saya hanya menulis, terus saya taruh di hardisk komputer saya. Begitu selama beberapa bulan diawal mula saya menulis. Lalu kemudian saya mengenal yang namanya blog. Sayapun membuat blog sendiri. Tulisan-tulisan aneh saya yang semula hanya tersimpan di hardisk komputer, saya taruh di <a href="http://www.sonyheradi.wordpress.com" target="_blank">blog saya</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu teman, bertanya sama saya. KENAPA MENULIS?. Saya jawab, menulis itu ASOY. ASik cOY. Sama asoy-nya dengan membaca, hobi saya yang lain. Bahkan pada kondisi tertentu, menulis bisa lebih asoy daripada membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya kemudian bertanya lagi. APA YANG KAMU CARI DARI MENULIS?. Saya jawab&#8230;. sebenernya saya juga tidak tahu persis apa yang saya cari dari menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya nanya lagi. TRUS NGAPAIN KAMU NULIS?. Ya saya jawab aja&#8230; kan tadi udah saya bilang, menulis itu ASOY. ASik cOY&#8230;..</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya <em>mrengut</em> (cemberut, red), kedua alisnya bertemu, bibirnya monyong seketika. Tapi ekspresi wajahnya berubah ketika saya jelaskan bahwa&#8230;. meskipun saya tidak tahu apa yang saya cari dari menulis, tapi saya dapat banyak hal dari menulis. Yang paling keren tentu saja adalah menulis telah menjadi sarana merubah ide yang semula berbentuk “tidak jelas” dan terkunci rapat di sebuah ruang yang bernama “benak” menjadi sesuatu yang lebih “kelihatan”. Hal lain yang saya dapat adalah saya bisa dapat teman baru (bahkan mungkin jodoh), pengalaman baru, ilmu baru dan&#8230;.. sebuah peluang untuk menambah penghasilan.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya akhirnya bisa mengerti. Bahkan dia seakan terpengaruh, terinspirasi, terhipnotis dengan penjelasan saya. Ekspresi mukanya menjadi agak aneh, pandangannya menerawang, matanya berkaca-kaca, bibirnya tangannya kakinya dan seluruh tubuhnya bergetar seperti orang kedinginan. Sesaat kemudian bola matanya berubah menjadi hijau, kulitnya juga berubah warna menjadi kehijauan, tubuhnya membesar dan terus membesar sampai bajunya robek dan dia berteriak garang&#8230;. huuaaaaaarrrgghhhhh&#8230; Saya kaget setengah mati, teman saya berubah menjadi&#8230; kodok raksasa (bukan Hulk). Lalu&#8230;.. tidak usah dilanjutkan, terlalu aneh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Karena saya tidak mau berhenti nulis (kecuali lagi males), maka tentu saja saya ingin meningkatkan kualitas tulisan saya. Saya tidak mau kalau hanya bisa banyak menulis tapi nggak ada kualitasnya. Yang saya mau adalah banyak menulis dengan kualitas yang ciamik.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak cara yang saya lakukan. Yang pertama tentu saja saya harus tetap menulis, tidak boleh berhenti. Yang kedua adalah banyak-banyak membaca, biar ada input alias inspirasi. Dan yang ketiga &#8211; ini penting sekali – adalah belajar kepada orang yang lebih jago. Dan untuk cara ketiga ini, saya memanfaatkan internet.</p>
<p style="text-align:justify;">Buka google, ketik “belajar menulis” di kolom kata kunci, tekan enter. Maka muncullah banyak situs tentang belajar menulis. Setelah klik sana sini, liat-liat. Perhatian saya tertuju pada situs yang bertajuk <a href="http://www.sekolahmenulisonline.com" target="_blank">SekolahMenulisOnline.com</a>. Menurut saya, situs inilah yang benar-benar mengajarkan bagaimana cara menulis yang baik, dengan metode yang relatif simple. <em>Cespleng</em> kata orang Jawa. Saat itu, saya ya hanya liat-liat saja, baca-baca saja, belum ada niat untuk daftar. Tapi dari liat-liat itu saya akhirnya bertemu dengan laki-laki ini&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><a href="http://sonyheradi.files.wordpress.com/2009/11/jonru.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-81" title="jonru" src="http://sonyheradi.files.wordpress.com/2009/11/jonru.jpg?w=253&#038;h=300" alt="" width="253" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Siapakah laki-laki ini ?. Saya tahu anda pasti berpikir ini adalah foto penyanyi Afgan 20 tahun yang akan datang. Jawabannya adalah bukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalo gitu ini pasti foto Om-nya Afgan ?. Jawabannya adalah bukan juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Papanya Afgan ?. Bukan juga</p>
<p style="text-align:justify;">Kakaknya Afgan ?. Bukan juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Afgan abis operasi plastik ?. Nggak mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Sopirnya Afgan ?. Ngawur.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembantunya Afgan ?. Tambah ngawur.</p>
<p style="text-align:justify;">Fansnya Afgan ?. Saya nggak tahu kalo itu, tapi mungkin saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu siapa laki-laki misterius ini?.</p>
<p style="text-align:justify;">Namanya adalah JONRU. Bang Jonru (begitu saya menyebutnya) ini adalah orang yang mengelola situs Sekolah Menulis Online (SMO). Bang Jonru inilah orang yang saya sebut dengan ”orang yang lebih jago”. Orang yang sangat paham dunia kepenulisan dan orang yang mendedikasikan waktunya untuk mengajari orang-orang seperti saya. Yaitu orang-orang yang suka menulis dan ingin belajar menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut saya, penulis seperti Bang Jonru ini unik dan agak langka. Kenapa unik dan agak langka ?. Karena Bang Jonru mendedikasikan waktunya untuk mengajari orang lain menulis, penulis model kayak gini nggak banyak lho&#8230; karena penulis biasanya hanya akan berkonsentrasi pada karyanya sendiri, bukan ”repot-repot” mengajari orang membuat karya tulisan yang bagus.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain SMO, Bang Jonru juga mengelola sebuah situs yang tidak kalah keren yaitu <a title="penulislepas.com" href="http://www.penulislepas.com" target="_blank">penulislepas.com</a>. Situs yang memfasilitasi penulis untuk ”memajang” karyanya didunia maya. Ini semakin membuktikan bahwa Bang Jonru adalah PENULIS UNTUK PENULIS.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka kemudian Bang Jonru kemudian saya tempatkan di peringkat ketiga sebagai orang yang bepengaruh besar terhadap perjalanan kepenulisan saya., setelah Alm. Umar Kayam dan Andrea Hirata.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang membuat Bang Jonru berada di peringkat ketiga ?. Karena dari membaca tulisan-tulisan Bang Jonru di internet, saya kemudian mempunyai ”cita-cita” yang baru dalam hal tulis menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kalo temen saya yang pernah berubah jadi kodok raksasa itu bertanya lagi sama saya. APA YANG KAMU CARI DARI MENULIS ?. Dengan yakin sekali saya akan menjawab&#8230;.. SAYA INGIN MENJADI PENULIS HEBAT&#8230; hanya saja saya harus hati-hati dalam menjawabnya. Saya takut dia berubah jadi kodok raksasa lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa itu PENULIS HEBAT ?. Bicara tentang penulis hebat, berbeda sedikit dengan PENULIS SUKSES. Kok gitu ?.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena PENULIS SUKSES adalah PENULIS HEBAT. Dan PENULIS HEBAT adalah cikal bakal seorang PENULIS SUKSES. Jadi kalau mau jadi PENULIS SUKSES harus jadi PENULIS HEBAT dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi PENULIS HEBAT adalah persoalan mental. PENULIS HEBAT adalah penulis yang MENTALNYA HEBAT. Lihat saja penulis-penulis sukses seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy atau Dewi Lestari. Jangan hanya lihat karyanya saja tapi lihat juga ”mentalitas” mereka sebagai seorang penulis. Mereka adalah penulis yang MENTALNYA HEBAT, makanya mereka menjadi PENULIS SUKSES.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Itu sajakah ?. Apakah hanya itu yang Bang Jonru berikan kepada saya ?. Sesuatu yang namanya ”cita-cita” itu saja?.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja tidak. Bang Jonru juga menunjukkan bagaimana cara mewujudkan ”cita-cita” tersebut. Jadi kalo diibaratkan, selain memberitahu bahwa saya bisa mendapatkan sebuah harta karun terpendam, Bang Jonru juga memberikan sebuah peta harta karun lengkap dengan kompas, sekop dan seabreg peralatan lainnya. Bang Jonru juga memberitahu dimana biasanya akan ada ”monster” yang menghadang dan bagaimana cara mengalahkannya. Jadi pantaslah kiranya kalo mendapatkan peringkat ketiga sebagai orang yang berpengaruh besar dalam perjalanan menulis saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua itu Bang Jonru berikan dalam satu paket karyanya yang berjudul CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT.</p>
<p><a href="http://sonyheradi.files.wordpress.com/2009/11/cover_penulishebat.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-82" title="cover_penulishebat" src="http://sonyheradi.files.wordpress.com/2009/11/cover_penulishebat.jpg?w=198&#038;h=300" alt="" width="198" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk saat ini, buku ini belum ada versi cetaknya. Yang tersedia adalah versi e-booknya. Untuk sebuah e-book yang keren, harganya murah sekali. Hanya Rp. 49.500,- saja. Dengan harga segitu kita juga mendapat tambahan bonus berupa voucher diskon senilai Rp. 200.000,- dari SMO yang dikelola oleh Bang Jonru. Diskon sebesar ini adalah diskon terbesar yang pernah diberikan oleh SMO. Sebelumnya belum pernah sebesar ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan itu saja. Selain voucher diskon dari SMO, kita juga bisa mendapatkan banyak modul eksklusif dari SMO, otomatis terdaftar di kelas SMO free trial dan – ini yang keren – mendapatkan bimbingan penulisan dari Bang Jonru yang berlaku seumur hidup. Semua bonus-bonus itu tidak berlaku bila kita membeli versi cetaknya yang bisa terbit setiap waktu. Saya beruntung sekali bisa kenal Bang Jonru.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai detik ini, saya belum pernah bertemu Bang Jonru secara langsung. Selama ini kami berkomunikasi via <a href="http://www.facebook.com/penulishebat" target="_blank">Facebook</a> . Bang Jonru sebenarnya bisa dihubungi lewat <a href="http://twitter.com/penulishebat" target="_blank">akun twitternya</a> , tapi karena saya nggak punya akun twitter, jadi ya lewat facebook saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan baik-baik, saya beruntung sekali bukan ?. Nggak pernah ketemu orangnya, nggak pernah main kerumahnya (apa lagi), kalo pas lebaran ya nggak pernah ngirim parcel tapi saya mendapatkan begitu banyak ilmu yang sangat bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sadar bahwa menjadi penulis hebat itu tidak mudah. Perjalanan menulis saya baru setahun, jelas saya belum bisa apa-apa. Itulah kenapa saya harus belajar, belajar dan belajar. Belajar kepada orang yang lebih berpengalaman seperti Bang Jonru, membaca lebih banyak dan yang paling penting tentu saja saya tidak boleh berhenti menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah belajar bersama Bang Jonru, saya juga tidak mungkin serta merta menjadi sehebat Andrea Hirata, Dewi Lestari apalagi J.K.Rowling. Tapi setidaknya tulisan saya menjadi tidak terlalu aneh. Semoga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=80&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/30/setelah-setahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sonyheradi.files.wordpress.com/2009/11/jonru.jpg?w=253" medium="image">
			<media:title type="html">jonru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sonyheradi.files.wordpress.com/2009/11/cover_penulishebat.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">cover_penulishebat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seri Kuliah Lagi &#8211; Pertemuan Kedua</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/25/seri-kuliah-lagi-pertemuan-kedua/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/25/seri-kuliah-lagi-pertemuan-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 13:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah Lagi - The Series]]></category>
		<category><![CDATA[asoy]]></category>
		<category><![CDATA[bikin pusing]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Magister Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[mendebarkan]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana]]></category>
		<category><![CDATA[persiden]]></category>
		<category><![CDATA[pertemuan kedua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Kuliah pertemuan kedua dalam sejarah, setelah lama tidak kuliah. Disini mulai asoy. Yang seru-seru, yang asik-asik, yang mendebarkan, yang bikin pusing sudah mulai ada. Hari-hari kuliah saya mulai berwarna-warni dan akan semakin semarak pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Saya jadi bersemangat sekali. Minggu tanggal 13 September 2009 atau 23 Ramadhan 1430 H. Itulah jadwal pertemuan kedua dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=78&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kuliah pertemuan kedua dalam sejarah, setelah lama tidak kuliah. Disini mulai asoy. Yang seru-seru, yang asik-asik, yang mendebarkan, yang bikin pusing sudah mulai ada. Hari-hari kuliah saya mulai berwarna-warni dan akan semakin semarak pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Saya jadi bersemangat sekali.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-78"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Minggu tanggal 13 September 2009 atau 23 Ramadhan 1430 H. Itulah jadwal pertemuan kedua dalam sejarah kuliah saya, setelah lama tidak kuliah. Kok&#8230; hari Minggu kuliah?. Itu karena memang saya ambil program eksekutif alias pogram kuliah Sabtu – Minggu. Jadi jadwal kuliah saya adalah hari Sabtu sore dimulai dari jam 3.00 sore sampai selesai jam 7.30 malam dan hari Minggu mulai jam 8.00 pagi sampai jam 4.30 sore. Program ini memang diperuntukkan bagi mahasiswa yang sudah bekerja, sehingga diambil waktu kuliah hari sabtu dan minggu. Itulah kenapa namanya adalah program eksekutif.</p>
<p style="text-align:justify;">Minggu pagi, saya berangkat agak pagi biar tidak terlambat. Sampai dikampus saya langsung bergegas naik ke lantai 3, menuju ruang PPS.02, ruang kelas saya. Sampai disana, saya lihat beberapa teman sudah berada didalam ruangan. Hari itu jadwal kuliah saya adalah sebagai berikut : jam pertama Manajemen Operasional lalu dilanjutkan dengan Manajemen Pemasaran kemudian istirahat. Setelah istirahat sampai jam 1.00 siang dilanjutkan dengan kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia dan jam terakhir adalah Sistem Informasi Manajemen, begitulah yang tertera dijadwal yang ditempel di papan informasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayapun menunggu diruang kelas, sambil mengobrol dengan teman-teman baru saya. Berkenalan, tanya dari mana, kerja dimana, dulu kuliahnya dimana sampai bertukar nomor handphone, itulah yang saya lakukan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8.30, sudah setengah jam kami menunggu dosen. Ruangan kuliah yang lain satu persatu sudah ada perkuliahan. Para mahasiswa yang tadinya ngobrol di lobi lantai satu maupun di lorong-lorong sekitar kelas kami semuanya sudah pada kuliah. Tinggal kami yang belum. Rupanya jimatnya ada yang ketinggalan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya dan salah satu teman saya yang bernama Pak Hadi akhirnya memutuskan untuk menanyakan ke pihak akademik. Sampai diruang akademik, hanya ada satu orang petugas akademik, tidak ada satupun dosen disana. Sesuai dengan jadwal kuliah, jam pertama adalah adalah mata kuliah manajemen operasional yang diajar oleh Pak Kamarul Imam, dosen yang mengajar kami pada Sabtu sore sebelumnya sekaligus satu-satunya dosen yang kami tahu. Pak Hadipun menanyakan ke akademik apakah Pak Kamarul (panggilan akrab Pak Kamarul Imam) sudah datang. Pihak akademik hanya memberikan nomor HP Pak Kamarul, kami disuruh menelepon sendiri. Pak Hadi segera menelpon Pak Kamarul.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah ditelepon, yang terjadi sungguh diluar dugaan kami. Pak Kamarul berkata bahwa dia akan mengajar kelas B (kelas saya) jam 2.30 sore alias jam terakhir. “kalau dijadwal yang saya pegang, saya mengajar kelas B jam setengah tiga sore nanti, tapi sebentar lagi saya berangkat kekampus&#8230;.” begitu kata beliau. Mampus dah, apa lagi ini?. Saya dan Pak Hadi kembali mengkonfirmasi ke pihak akademik. Pihak akademik angkat tangan. Mereka menyarankan agar kita menunggu Pak Kamarul saja, karena beliau juga menjabat sebagai sekretaris jurusan manajemen, beliaulah yang bertanggung jawab atas kelangsungan perkuliahan termasuk masalah jadwal kuliah. Pihak akademik juga menyarankan agar kelas kami memilih ketua kelas agar bisa lebih mudah berkoordinasi dengan akademik maupun dosen.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya berdiskusi sebentar dengan Pak Hadi. Akhirnya diputuskan bahwa jam pertama kosong dan waktu kosong tersebut digunakan untuk memilih ketua kelas. Kami segera naik ke lantai tiga menuju ruang kelas kami. Hasil dari “pertemuan” dengan pihak akademik diberitahukan kepada teman-teman yang lain oleh Pak Hadi. Seperti sebelumnya, bukannya marah atau bagaimana, kami semua justru ketawa-ketiwi mentertawakan nasib sial kami. Dari situ juga disepakati bahwa waktu kosong akan dipakai untuk memilih ketua kelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara aklamasi. Sebenarnya teman-teman sepakat untuk memilih Pak Hadi sebagai ketua kelas. Dari sisi usia, Pak Hadi termasuk yang tertua diantara kami. Selain itu  secara wibawa beliau pantas menjadi ketua kami. Namun dengan halus dan sedikit bercanda Pak Hadi menolak jabatan tersebut. Beliau menyarankan agar masing-masing kita memperkenalkan diri, mulai dari nama, alamat rumah, tempat kerja dan jam kerja. Dari situ diharapkan dapat terpilih ketua yang berdomisili terdekat dengan kampus dan memiliki wakktu yang cukup untuk kekampus bila diperlukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dimulailah acara saling memperkenalkan diri. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri dan masing-masing berusaha untuk terlihat sebagai orang yang sibuk agar tidak terpilih jadi ketua kelas (termasuk saya). Tidak ada yang dengan ikhlas dan sukarela mau mengemban tugas mulia tersebut. Kalau sudah urusan tugas dan tanggung jawab, bukannya mengacungkan tangan tapi justru menunjuk orang lain. Indonesia banget.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan karena semuanya memang orang sibuk atau minimal “kelihatannya” sibuk, maka diputuskan untuk dilakukan voting. Salah satu teman saya yang bernama Mbak Nenny yang jadi KPU. Mbak Nenny mempersiapkan “surat suara” yang hanya berupa kertas yang disobek kecil-kecil. Masing-masing dari kami menuliskan siapa nama ketua kelas yang dipilih, lalu dihitung dan yang paling banyak pemilihnya dialah yang jadi ketua kelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Rupanya hari itu saya sedang beruntung (atau sial). Lima dari total dua belas surat suara tertulis nama saya. Hampir separuh dari kelas menghendaki saya jadi ketua kelas, sisanya terbagi pada beberapa nama. Sayapun tidak bisa berbuat apa-apa. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus bisa menerima keputusan rakyat. Teman-teman saya beranggapan bahwa rumah saya paling dekat dengan kampus (emang bener) jadi saya punya kesempatan yang relatif banyak untuk kekampus. Segera setelah terpilih, saya didaulat untuk menyapaikan pidato kenegaraan untuk pertama kalinya.</p>
<p style="text-align:justify;">” &#8230;. eeehh&#8230; sebelumnya&#8230; terima kasih teman-teman sudah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjadi ketua kelas&#8230;. ”</p>
<p style="text-align:justify;">Plok plok plok plok plok plok plok hweeeeeeeeiiiiii……. Entah siapa yang memulai tiba-tiba tepuk tangan dan teriakan membahana diseluruh ruangan kelas.</p>
<p style="text-align:justify;">” &#8230;. begini teman-teman&#8230; kalau menurut informasi dari akademik, tugas ketua kelas itu sebenarnya gampang-gampang susah. Yang paling susah sebenarnya ya cuma menghubungi dosen kalo dosennya ga dateng, itupun sebenernya juga nggak terlalu susah. Lagian masak setiap mau kuliah dosennya harus dihubungi dulu&#8230;.. ”</p>
<p style="text-align:justify;">Teman-teman saya manggut-manggut semua.</p>
<p style="text-align:justify;">” &#8230;.. tapi begini teman-teman&#8230; walaupun rumah saya deket dari kampus, tetap saja ada kemungkinan saya tidak masuk kuliah. Yaa.. entah karena sakit atau mungkin ada keperluan yang tidak bisa ditinggal. Jadi menurut saya&#8230; labih baik kalo ada semacam wakil ketua kelas atau sekretaris gitu. Maksudnya ya kalo pas saya nggak masuk ada yang back up gitu&#8230;. ” ujar saya panjang lebar.</p>
<p style="text-align:justify;">” saya sependapat sama Pak Sony&#8230;. tapi begini temen-temen, yang paling penting di kelas kita itu harus kompak, nggak perlu menang-menangan atau pinter-pinteran, semuanya pinter. Yang penting kita masuk kuliah bareng-bareng nanti lulus wisuda bareng-bareng juga, enak toh&#8230;.. ” Mbak Nenny dengan penuh semangat mengutarakan pendapatnya.</p>
<p>Kami semua manggut-manggut lagi. Kali ini termasuk saya.</p>
<p style="text-align:justify;">” kalo masalah menghubungi akademik atau dosen ya Pak Sony&#8230;. sebenarnya kami semua siap melakukan kalo pas sampeyan lagi nggak dateng kuliah. Tapi saya setuju kalo harus ada yang jadi sektetaris, biar sampeyan ada temennya. Temen-temen yang lain gimana??? ” ujar Mbak Nenny panjang lebar.</p>
<p>Kami manggut-manggut lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">” iya mas&#8230; saya setuju sama mbak ini, sapa namanya ?? ” Pak Hadi berkomentar.</p>
<p style="text-align:justify;">” Saya Nenny pak, kerja di bank sekaligus ibu rumah tangga&#8230;. ” jawab mbak Nenny.</p>
<p style="text-align:justify;">” &#8230;.menghubungi akademik atau dosen itu urusan gampang mas, sampeyan jangan khawatir. Cuma kalo misalnya besok-besok kelas kita butuh koordinasi misalnya kalo ada tugas, ya sampeyan yang mengkoordinasi dibantu sama sekeretaris.. ” lanjut Pak Hadi.</p>
<p style="text-align:justify;">” Baik kalo begitu sekalian kita pilih aja sapa yang jadi sekretaris, mau voting lagi apa gimana nih?? ” akhirnya saya tegaskan untuk segera ditentukan siapa sekretarisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">” voting <em>kesuwen</em> mas, sampeyan aja tunjuk langsung. Enaknya yang perempuan aja, soalnya kalo perempuan itu luwes jadi gampang meluluhkan hati dosen&#8230; ” usul Pak Hadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Terang saja usul Pak Hadi ini disambut tawa seisi kelas tapi ada satu yang mengacungkan tangan.</p>
<p style="text-align:justify;">” &#8230;. Kalo masalah luwes oke saya setuju kalo perempuan lebih luwes. Tapi saya lebih setuju lagi kalo yang jadi sekretaris itu yang masih single, belum berkeluarga. Soalnya kalo yang sudah berkeluarga itu susah ngatur waktunya pak, pulang kerja udah Maghrib abis itu ya ngurusin yang dirumah. Saya takutnya urusan jadi sekretaris ini malah nggak terurus. Lha ngerjain tugas aja kita nyuri-nyuri waktu. Nah kalo yang masih single kan enak, waktunya relatif longgar&#8230;. ” usul mbak Nenny.</p>
<p>”&#8230; sampeyan dari partai mana mbak?? ” celetuk Pak Hadi, kelas tertawa lagi.</p>
<p>” oke jadi gimana nih?? ga jadi voting?? ” sayapun hraus menengahi.</p>
<p style="text-align:justify;">” ini aja pak.. mbak ini aja&#8230; ” mbak Nenny dengan penuh semangat menunjuk Mbak Diani yang duduk tepat dibelakangnya. Yang ditunjuk kelabakan.</p>
<p style="text-align:justify;">”  mbak ini kan masih belum keluarga, jadi waktunya agak banyak&#8230; ya mbak ya? sampeyan aja ya jadi sekretaris&#8230;. ” mbak Nenny semakin berapi-api. Yang ditunjuk semakin kelabakan.</p>
<p style="text-align:justify;">” lhoh lhoh lhoh&#8230;. yaaa&#8230; emang saya belum berkeluarga, tapi rumah saya jauh, di Situbondo&#8230;. ” jawab mbak Diani sambil masih kelabakan.</p>
<p style="text-align:justify;">” nggak masalah mbak, nanti kami semua bantu kok, jangan khawatir&#8230;. ” Mbak Nenny semakin bersemangat. Yang lain ketawa.</p>
<p style="text-align:justify;">” iya wis mbak sampeyan aja, lagian tugasnya sekretaris lho ngapain??. Kalo cuma nelpon dosen biar mbak yang cerewet ini aja&#8230;. ” Pak Hadi kembali nyeletuk. Kelas semakin ramai, Mbak Nenny hanya senyam-senyum saja.</p>
<p style="text-align:justify;">” Ya sudah&#8230;. gimana mbak Diani, sanggup nggak jadi sekretaris ?? ” saya memastikan lagi kesediaan Mbak Diani. Belum sempat Mbak Diani menjawab&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">” iya setuju pak setuju&#8230; iya mbak ya setuju yaa&#8230; temen-temen yang laen setuju semua yaaaaaa&#8230;. ” Mbak Nenny kembali beraksi. Tentu saja seisi kelas kembali tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">” iya sudah kalo gitu, saya jadi sekretaris. Tapi nanti dibantuin ya kalo ada apa-apa&#8230; ” akhirnya Mbak Diani menyetujui walau ada ultimatum dibelakang. Kelas terbahak-bahak sambil bertepuk tangan, tentu saja tetap Mbak Nenny yang paling semangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan&#8230; akhirnya terpilihlah sudah persiden dan wakil persiden republik manajemen kelas B. Saya sebagai persidennya dan mbak Diani sebagai wakil persidennya. ”Jabatan” ini tentu saja menjadi warna tersendiri dalam perjalanan kuliah saya. Warna yang paling cerah, setidaknya sampai pertemuan yang kedua ini. Saya percaya ”jabatan” ini akan memberi warna-warna keren yang lain dalam perjalanan kuliah saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu.. jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Berarti jam pertama telah berakhir dan masuklah pada jam kedua. Kami semua masih setia menunggu dosen untuk mata kuliah jam kedua dimana menurut jadwal adalah mata kuliah Manajemen Pemasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Setengah jam kemudian, dosen belum juga datang. Tapi kami mulai terbiasa dengan keterlambatan ini. Sampai akhirnya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">” Pak Ketua&#8230; sudah jam setengah sebelas ini, dosennya masih belum dateng. Laksanakan tugasmu&#8230;.. ” kata Pak Hadi sambil tersenyum dan menepuk pundak saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka inilah tugas pertama saya sebagai seorang persiden, menghubungi dosen mata kuliah manajemen pemasaran. Sayapun bergegas turun ke lantai 1, menuju ruang akademik. Sampai diruang akademik, kebetulan sekali Pak Kamarul baru saja datang. Langsung saja saya mengkonfirmasikan tentang kesalahan jadwal yang terjadi tadi pagi.</p>
<p style="text-align:justify;">” sampeyan dari kelas B ?? ” Pak Kamarul bertanya sama saya.</p>
<p style="text-align:justify;">” Iya Pak&#8230;. ”</p>
<p style="text-align:justify;">” sudah dipilih koordinatornya ?? ”</p>
<p style="text-align:justify;">” sudah pak, saya yang kepilih&#8230; ”</p>
<p style="text-align:justify;">” ini kayaknya ada kesalahan jadwal ya&#8230; dijadwal yang saya pegang itu saya ngajar Operasional kelas B nanti jam terakhir. Tapi tadi saya ditelepon katanya dijadwal mahasiswa itu jam pertama. Sampeyan liat jadwal dimana ?? ” kata Pak Kamarul dengan agak bingung.</p>
<p style="text-align:justify;">” saya dapat jadwal dari papan informasi yang didepan itu pak&#8230;. ”</p>
<p style="text-align:justify;">” oh dimana ? Coba kita lihat&#8230;.. ” ujar Pak Kamarul. Kamipun menuju ke papan informasi yang teletak didekat pintu masuk kampus. Sesampainya disana&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">” waaaahh ini dia kebalik nih&#8230; seharusnya jam pertama kelas B itu sistem informasi manajemen terus jam terakhirnya mata kuliah saya, manajemen operasional. Ini sapa sih yang masang jadwal ?? ” Pak Kamarul menggerutu setelah melihat jadwal yang terpasang di papan informasi ternyata ada yang salah.</p>
<p style="text-align:justify;">” jadi jadwal yang bener yang punya bapak ?? ” saya memastikan.</p>
<p style="text-align:justify;">” iya&#8230; yang bener yang saya pegang ini. Memang kemaren ada revisi, tapi jadinya malah kebalik begini. Nggak beres yang masang ini&#8230; ” Pak Kamarul masih sewot.</p>
<p style="text-align:justify;">” iya sudah pak&#8230; berarti jam pertama sama jam terakhir terbalik ya pak ?? ”</p>
<p style="text-align:justify;">” iya terbalik&#8230; tolong sampaikan ke temen-temennya ya&#8230; ”</p>
<p style="text-align:justify;">” baik pak, nanti teman-teman saya beritahu.. ”.</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah. Satu masalah terselesaikan, tinggal satu lagi. Menghubungi dosen manajemen pemasaran. Sayapun kembali ke ruang akademik, menanyakan apakah dosennya sudah datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya punya bekal nama dua orang dosen yang mengajar. Yang pertama namanya adalah Prof.Andi Sularso dan satunya adalah Dr.Imam Suroso. Kok dosennya ada dua ??. Setiap mata kuliah sebenarnya memang dipegang oleh dua orang dosen. Salah satu dosen tersebut bertindak sebagai dosen koordinator. Biasanya dari dua orang dosen tersebut sudah ada pembagian sendiri mengenai jadwal mengajarnya, yang jelas masing-masing dapat jam mengajar yang sama. Pembagian jam mengajar biasanya dibagi menjadi dua, yaitu sebelum dan sesudah ujian tengah semester. Jadi setelah ujian tengah semester akan ada pergantian dosen.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya sekarang adalah saya tidak tahu siapa yang mengajar duluan. Prof.Andi atau Pak Imam Suroso ?. Dan satu lagi saya tidak pernah tahu kedua dosen tersebut, jadi saya tidak tahu mereka berdua ”wujudnya” seperti apa. Prof.Andi memang yang jadi dosen koordinatornya, tapi belum tentu kalau beliau yang mengajar duluan. Saya tanya pihak akademik, mereka tidak tahu juga. Mantap. Akhirnya saya hanya diberi nomer handphone Prof.Andi, saya disuruh nelpon sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Segera saya telpon Prof.Andi. Dan hasilnya adalah hari itu yang mengajar adalah Pak Imam Suroso, Prof.Andi lagi diluar kota. Sayapun kembali ke akademik, kali ini menanyakan Pak Imam Suroso sudah dateng apa belum. Ternyata Pak Imam Suroso belum dateng. Saya hanya diberi nomer handphone Pak Imam Suroso, suruh nelpon sendiri lagi.</p>
<p>Langsung saja saya menghubungi nomer yang diberi tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuuuut&#8230;. tuuuuuutt&#8230;. tuuuuuut&#8230;. Tidak diangkat. Saya coba sekali lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuuuut&#8230;. tuuuuuuutt&#8230;. ceklek&#8230;. Akhirnya diangkat</p>
<p style="text-align:justify;">” Hallo Assalamualaikum&#8230; apa ini benar dengan Pak Imam Suroso ?”. saya membuka pembicaraan.</p>
<p style="text-align:justify;">” kemresek kemresek kemresek&#8230;.. ” saya hanya dijawab suara tidak jelas, seperti tidak dapat sinyal.</p>
<p style="text-align:justify;">” Hallo Assalamuaikum&#8230;. ” saya kembali mencoba berbicara. Tapi saya hanya dijawab dengan suara tidak jelas yang sama. Saya matikan, lalu saya telpon lagi, kali ini saya mencoba keluar ruangan, dihalaman kampus, siapa tahu bisa.</p>
<p>Tuuuuuuutt&#8230; tuuuuuuuutt&#8230; ceklek&#8230; Diangkat lagi.</p>
<p>” Hallo Assalamualaikum&#8230;. ”</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali saya dijawab oleh suara tidak jelas. Akhirnya saya berkesimpulan mungkin Pak Imam Suroso sedang dalam perjalanan, makanya sinyalnya kurang jelas. Sayapun konfirmasi lagi ke akademik. Dan jawabannya adalah&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">” oh sudah naik dik, barusan Pak Imam Suroso sudah naik ke lantai tiga&#8230;.. ”</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan ekspresi polos tanpa dosa, petugas akademik berkata seperti itu. Saya hanya bisa melongo. Berbagai macam perasaan semua jadi satu dalam hati. Dalam hati saya berkata&#8230; INI YANG GOBLOK SEBENERNYA SAPA SIH ??.</p>
<p style="text-align:justify;">Yahhh&#8230;. tugas pertama saya sebagai persiden republik manajemen kelas B berakhir dengan <em>nggeletek</em> alias konyol. Tapi nggak apa-apalah, yang penting semuanya beres dan akhirnya kami bisa kuliah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayapun bergegas naik ke lantai tiga, menuju ruang kelas. Sesampainya dikelas, Pak Imam Suroso sudah didalam kelas. Kuliahpun dimulai. Entah karena kuliah pertama atau bagaimana, kuliah berjalan sangat santai. Pak Imam Suroso hanya memperkenalkan diri dan membahas secara garis besar mata kuliah yang akan beliau ajarkan termasuk kriteria penilaian dan tugas-tugas yang akan diberikan. Setelah itu, beliau membahas tentang hal yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah manajemen pemasaran tapi sangat berguna bagi kami para mahasiswa. Beliau membahas tata cara membuat tesis dan tips keren bagaimana bisa lulus tepat waktu. Tentu saja materi ini sangat bermanfaat bagi kami. Setelah itu, selesai. Beliau undur diri, kuliah jam kedua telah usai. Waktunya istirahat siang.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu istirahatnya lumayan panjang, sampai jam 1.00 siang. Waktu panjang itu biasanya kami gunakan untuk sholat Dhuhur dan makan siang, tapi karena saat itu sedang bulan puasa, maka sehabis sholat kami leyeh-leyeh saja didalam kelas. Sekedar informasi, untuk program eksekutif kita dapat jatah makan. Itulah sebabnya SPPnya lebih mahal. Untuk kuliah hari sabtu, jatah makan diberikan menjelang Maghrib, tepatnya saat pergantian jam perkuliahan. Sedangkan pada hari minggu diberikan saat break siang atau setelah jam kedua berakhir. Selain makan, untuk kelas eksekutif ada fasilitas AWM alias Anjungan Wedang Mandiri. AWM adalah fasilitas bagi mahasiswa untuk membuat kopi atau teh sendiri. Disediakan dua buah dispenser, puluhan cangkir dan ada teh celup serta kopi bubuk lengkap dengan gulanya tentu saja. Jadi sembari menunggu dosen mahasiswa bisa nyantai sejenak sambil ngopi atau ngeteh.</p>
<p style="text-align:justify;">Jam menunjukkan tepat pukul 1.00 siang, saya dan teman-teman kembali masuk keruangan kelas kami. Sesuai jadwal jam ketiga adalah mata kuliah manajemen sumber daya manusia. Dalam hati saya berharap agar dosen mata kuliah orangnya agak atraktif, sukur-sukur kalo humoris. Kenapa? Kuliah siang hari dibulan puasa sangat berpotensi membuat orang mengantuk. Apalagi mata kuliahnya adalah manajemen sumber daya manusia, sebuah mata kuliah yang ”penuh pengertian” alias banyak teori. Maka diperlukan dosen yang atraktif agar kelas bisa ”hidup” dan tidak jadi mengantuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum genap sepuluh menit kami menunggu, pak dosen sudah datang. Sepintas kalo melihat dari fisik beliau, pak dosen ini kelihatannya sabar, nggak macem-macem dan disiplin. Namanya adalah Pak Budi. Menurut info yang saya tahu, beliau adalah salah satu dosen senior di pasca sarjana dan dari dulu kompetensi beliau memang dibidang sumber daya manusia. Kelas kami beruntung sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan kuliah berjalan agak serius, itu kalo saya bandingkan dengan beberapa kuliah yang sudah kami jalani yang umumnya berisi perkenalan dosen dan garis besar mata kuliah. Untuk kuliah kali ini, Pak Budi hanya berkenalan sebentar dan langsung tancap gas pada bab pertama. Dan seperti yang saya duga mata kuliah ini adalah mata kuliah yang  banyak teori. Kita harus banyak menghapal dan pandai berargumentasi. Dan (lagi) harapan saya untuk mendapatkan kuliah yang ”hidup” kandas sudah. Kuliah berjalan sangat monoton dengan mendengarkan Pak Budi berceramah. Setelah sekitar 45 menit berlalu, saya lihat hampir separuh kelas matanya merah menahan kantuk, termasuk saya. Tak terhitung lagi mulut yang menganga lebar karena menguap. Kamipun hanya bisa terdiam  dan mendengarkan, bahkan saat Pak Budi menawari ” ada pertanyaan..?? ”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hati saya berkata bahwa kuliah ini harus dibuat model diskusi, supaya lebih atraktif, lebih hidup. Kalau hanya mendengarkan dosen yang berceramah, yang ada adalah mengantuk. Dan sepertinya kata hati saya didengarkan oleh malaikat, disampaikan kepada Tuhan dan dikabulkan. Sesaat sebelum kuliah berakhir, Pak Budi membagi kami menjadi beberapa kelompok diskusi. Masing-masing kelompok mendapatkan satu materi yang harus dipresentasikan dan didiskusikan pada setiap kuliah Pak Budi. Saat itu juga Pak Budi menentukan materi untuk tiap kelompok beserta jadwal presentasi masing-masing kelompok. Setelah itu, menjelang Ashar kuliah diakhiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Menunggu kuliah jam terakhir. Kami sholat Ashar dulu di mushola yang terletak disisi selatan lantai 3. Kuliah jam terakhir adalah manajemen operasional yang akan diajar oleh Pak Kamarul. Dan sebelum kami selesai kami sholat Ashar, beliau sudah datang. Sepertinya beliau memahami bahwa kami ingin cepat-cepat pulang. Atau justru beliau yang ingin cepat-cepat pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuliah berjalan santai namun tetap serius. Sepertinya memang beginilah gaya mengajar Pak Kamarul. Materi diajarkan dengan sangat sangat jelas namun kuliah tetap berjalan santai, tidak tegang. Pak Kamarul menerangkan sebuah model analisis manajemen seakan beliau yang menciptakan model analisis tersebut. Kalau dosen lain, mungkin hanya akan menjelaskan cara kerja model tersebut. Pak Kamarul menjelaskan semuanya. Mulai dari cara kerja, latar belakang model analisis tersebut, memberikan langkah tercepat menyelesaikan persoalan plus contoh nyata dalam level praktek. Hebatnya semua berjalan dalam keadaan santai namun kami semua tetap bisa memahami apa yang beliau ajarkan. Itu membuktikan beliau sudah hapal luar biasa dengan materi tersebut. Bahkan ditengah-tengah penjelasan beliau bisa menyelipkan obrolan santai diluar materi, seperti kritik terhadap pemerintah, cerita pengalaman pribadi dan tentu saja guyonan segar. Menurut saya gaya mengajar seperti ini hanya bisa dilakukan oleh dosen dengan jam terbang tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jam 4.30 kurang sedikit, kuliah diakhiri. Capek memang, tapi saya senang. Senang sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari itu, Minggu tanggal 13 September 2009 atau 23 Ramadhan 1430 H. Hari pertemuan kedua dalam sejarah kuliah lagi berjalan dengan penuh warna. Terpilih menjadi persiden republik manajemen kelas B, tugas dinas negara yang berakhir konyol dan tentu saja pengalaman kuliah yang seru membuat hari itu jadi warna-warni. Dan aha&#8230; hampir saja saya lupa. Hari itu saya mendapatkan tiga nomor handphone dosen sekaligus. Pak Kamarul, Prof. Andi Sularso dan Dr.Imam Suroso, ketiganya adalah dosen senior dan pakar dibidang masing-masing. Saya beruntung sekali. Dan tentu saja ini adalah warna yang sangat keren dalam perjalanan kuliah saya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=78&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/11/25/seri-kuliah-lagi-pertemuan-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Kuliah Lagi</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/10/23/akhirnya-kuliah-lagi/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/10/23/akhirnya-kuliah-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 12:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah Lagi - The Series]]></category>
		<category><![CDATA[asoy]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Magister Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[S2]]></category>
		<category><![CDATA[sonyheradi]]></category>
		<category><![CDATA[UNEJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya saya kuliah lagi. Tepat tanggal 12 September 2009 alias 22 Ramadhan 1430 H, saya mulai kuliah lagi. Jadi mahasiswa lagi. Mulai makan bangku kuliah lagi. Ketemu dosen-dosen lagi. Ketemu tugas-tugas lagi. Belajar-belajar lagi. Senangnya. Yang lebih hebat, lingkungan belajar saya yang sekarang ini lebih asoy daripada yang kemaren-kemaren. Itulah yang saya rasakan. Begitu asoynya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=76&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Akhirnya saya kuliah lagi. Tepat tanggal 12 September 2009 alias 22 Ramadhan 1430 H, saya mulai kuliah lagi. Jadi mahasiswa lagi. Mulai makan bangku kuliah lagi. Ketemu dosen-dosen lagi. Ketemu tugas-tugas lagi. Belajar-belajar lagi. Senangnya. Yang lebih hebat, lingkungan belajar saya yang sekarang ini lebih asoy daripada yang kemaren-kemaren. Itulah yang saya rasakan. Begitu asoynya hingga memberikan saya inspirasi untuk membuat tulisan tentang kegiatan kuliah saya. Di mulai dari tulisan ini, Insya Allah besok-besok akan ada lagi tulisan-tulisan asik menggelitik dari kampus saya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-76"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hari Sabtu Pon, 22 Ramadhan 1430 H jam 3 sore. Hari itu adalah jadwal kuliah saya pertama kali. Ada perasaan seneng campur deg-degan campur penasaran. Nggak tahu perasaan apa itu namanya. Seneng karena akhirnya bisa kuliah lagi. Deg-degan karena akan diajar oleh dosen- dosen terbaik yang dipunyai oleh universitas. Dan penasaran seperti apa teman-teman saya nantinya.<br />
Sebelumnya, hari Jum&#8217;at Pahing tanggal 11 September 2009. Saya ditelepon sama pihak akademis kampus. Mereka memberitahukan bahwa saya masuk kelas B. Masuk kelas B bukan berarti saya dan teman-teman lain yang senasib adalah mahasiswa kualitas 2. Pembagian kelas bukan berdasarkan nilai saat ujian masuk atau mungkin IPK saat S1. Saya sendiri tidak tahu persis bagaimana pihak akademis membagi kelas. Saya cuma terima nasib masuk kelas B. Itu saja. Dalam satu kelas terdiri hanya 15 orang. Jumlah yang sangat ideal untuk perkuliahan. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit.<br />
Karena ini kuliah pertama, tentu saja saya tidak mau terlambat. Hari sabtu, saya masih masuk kerja. Walau hanya setengah hari. Itupun saya sampai rumah jam 2 siang. Sayapun harus berpacu dengan waktu. Begitu sampai rumah langsung mandi, persiapan buku-buku sama alat tulis buat kuliah lalu segera meluncur ke kampus. Jarak dari rumah kekampus sebenarnya tidak terlalu jauh. Sekitar 15 menit naik motor.<br />
Jam 3 kurang 5 menit saya sampai dikampus. Di tempat parkir masih terlihat beberapa mahasiswa yang duduk-duduk, begitu juga diruang lobi kampus. Itu berarti saya tidak terlambat.<br />
Sampai dikampus saya celingukan. Karena ini kuliah pertama, tentu saja saya belum punya teman. Saya juga tidak satupun mengenal dosen-dosennya. Bekal saya cuma informasi jadwal kuliah. Sore itu saya ada kuliah Manajemen Keuangan lalu dilanjutkan sehabis maghrib ada mata kuliah yang lain. Selain jadwal kuliah bekal lainnya adalah informasi ruang tempat kuliah, yaitu di sebuah ruang yang bernama ruang PPS.02. Tapi informasi tersebut percuma karena saya tidak tahu dimana ruangan tersebut berada. Setelah saya tanya dibagian akademik, akhirnya saya tahu kalau ruangan tersebut ada dilantai 3.<br />
Naik ke lantai 3 juga ada ceritanya sendiri. Tentu saja tidak lain berhubungan dengan tubuh saya yang tambun. Dengan penuh semangat saya menaiki anak tangga demi anak tangga. Namun rupanya berat badan saya mengalahkan tingginya semangat saya. Sampai lantai dua seperempat saya sudah ngos-ngosan. Dengan bersandar pada pegangan tangga saya mencoba mengatur nafas. Setelah nafas mulai teratur, saya lanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di lantai 3. Habis itu ngos-ngosan lagi.<br />
Sampai di lantai 3 yang memang lantai teratas dari kampus saya, ada ceritanya juga. Tepat didepan tangga ada sebuah meja dan beberapa kursi. Dibelakang meja dan kursi tersebut atau lurus saja dari tangga ada sebuah ruangan besar yang tidak lain adalah aula kampus, tempat saya menjalani ujian masuk dulu. Melihat kekiri dan kekanan, hanya ada ruang perkuliahan dan 2 toilet diujung kiri dan kanan lantai 3 (atau bagian utara dan selatan lantai 3). Pada bagian selatan selain toilet ada musolla juga. Ada sekitar 7 ruangan (minus toilet dan musolla) dilantai 3. 1 aula besar, 2 ruangan kuliah ukuran sedang, 3 ruangan kuliah ukuran kecil dan 1 ruangan laboratorium komputer.<br />
Cerita dimulai dari saat saya baru sampai di lantai 3. Begitu sampai di lantai 3, saya melihat 2 orang mahasiswa sedang ngobrol di kursi yang ada didepan tangga. Nantinya dua orang tersebut akan menjadi teman sekelas saya. Dari arah tangga terlihat bahwa ruang aula besar sudah ada perkuliahan. Saya jadi takut, jangan-jangan saya terlambat. Dua mahasiswa tadi cuek-cuek saja dengan kehadiran saya. Melihat ruangan disebelah kanan tangga, sudah ada kuliah juga. Beberapa ruang kuliah ukuran kecil juga sudah ada kuliah. Saya semakin takut. Dua orang mahasiswa tadi tetap cuek.<br />
Daripada saya penasaran, maka akhirnya saya memberanikan diri untuk langsung masuk keruangan yang disebelah kanan tangga. Langsung saja saya ketuk pintu ruangan tersebut. Konsentrasi kelas buyar, perhatian semua manusia diruangan tersebut tertuju pada saya. Saya buka sedikit pintunya lalu bertanya pada dosen yang sedang mengajar saat itu. “permisi pak&#8230; apa ini kuliah manajemen kelas B?”. Ternyata pak dosen tersebut juga tidak tahu, dia malah menoleh ke mahasiswanya. Salah satu mahasiswa kemudian ada yang menyahut. “bukan mas, ini kelas A&#8230;”. Tentu saja saya langsung minta maaf, menutup kembali pintu dan meninggalkan kelas tersebut. Saya malu sekali. Beberapa mahasiswa diruangan tersebut ada yang tersenyum simpul melihat kelakuan saya. Hari pertama kuliah saya dihiasi dengan adegan yang ngisin-ngisini. Anehnya dua mahasiswa yang duduk-duduk tadi tetap cuek.<br />
Saya menyesal dengan keputusan tersebut. Saya menyesal mengapa saya tidak bertanya dulu pada dua mahasiswa yang duduk-duduk itu. Langsung saja dekati mereka dan menanyakan mereka dari kelas mana dan mau kuliah apa sore ini. Dan benar saja ternyata mereka adalah mahasiswa yang nantinya akan sekelas dengan saya. Senang juga akhirnya nemu  teman. Tapi saya tetap sebel dengan sikap cuek mereka.<br />
Beberapa menit berlalu. Dari yang awalnya cuma saya dan dua orang tadi, sekarang sudah ada sekitar tujuh orang mahasiswa yang ikutan ngobrol-ngobrol didepan tangga. Semuanya sama, mahasiswa semester 1 kelas B. Sampai sekitar pukul 3.30, itu berarti sudah lewat 30 menit dari jadwal kuliah, dosen belum juga datang. Akhirnya ada yang mengusulkan untuk kita menunggu di ruangan kelas saja. Kamipun masuk diruangan yang bernama ruang PPS.02 tersebut yang ternyata terletak disebelah kiri tangga.<br />
Masuk ke ruangan PPS.02, maka inilah untuk pertama kalinya saya memasuki ruang kuliah setelah beberapa lama tidak kuliah. Ruangan PPS.02 ini termasuk satu diantara dua ruangan kuliah berukuran sedang yang ada di lantai 3. Ruangan kuliah berukuran sedang satunya adalah ruangan yang sukses membuat saya malu berat beberapa saat sebelumnya. Ruangan ini menurut saya sebenarnya lumayan besar, kalau untuk 25 orang saja pasti masih cukup. Namun sayangnya untuk ruangan seluas itu hanya ada 1 buah AC.<br />
Seperti lazimnya sebuah ruang perkuliahan, apa yang ada didalamnya tidak berbeda dari ruang kuliah pada umumnya. Sebuah white board di sisi depan ruangan. Sekitar 20 bangku kuliah. Sebuah meja untuk dosen dan&#8230;. aha&#8230; ini dia yang spesial. Tepat disebelah meja dosen ada 3/4 set komputer plus infocus projector. Kenapa cuma 3/4 set saja?. Karena cuma ada CPU, keyboard dan mouse. Tanpa monitor. Kenapa tanpa monitor?. Karena sudah ada infocus projector. Infocus projector ini berfungsi memproyeksikan gambar yang biasanya ditampilkan oleh monitor ke dinding di sebelah white board. Jadi peran monitor digantikan oleh kolaborasi antara infocus projector dan dinding kelas.<br />
Saat menunggu didalam kelaspun, ada ceritanya. Bermula saat kami lagi asyik mengobrol, tiba-tiba ada seorang laki-laki setengah baya yang masuk kekelas kami. Laki-laki tersebut membawa tas kerja warna hitam dan membawa map plastik berwarna kuning. Kamipun mengira bahwa laki-laki inilah dosen yang akan mengajar kami. Obrolan terhenti seketika, kami semua terdiam, langsung anteng kata orang Jawa. Kelakuakn kami persis siswa SD yang kelasnya kedatangan guru secara tiba-tiba. Lalu kemudian&#8230;<br />
“ Maaf ruangan ini dipakai kuliah nggak ?” laki-laki tersebut bertanya pada kami.<br />
Salah satu dari kami kemudian menjawab. “ dosennya masih belum datang pak, nanti kalau sudah datang ya dipakai&#8230; “.<br />
Lalu kemudian dengan entengnya laki-laki tersebut berkata. “ Oooo gitu&#8230; kalo gitu saya tukar ruangan ya&#8230; ini mahasiswa saya agak banyak ruangannya nggak cukup&#8230; “.<br />
Selama sepersekian detik kami saling pandang. Lalu tanpa banyak bicara kami keluar dari ruangan tersebut. Kami senyam-senyum ketawa-ketiwi mentertawakan nasib kami sendiri. Disaat kelas yang lain sudah pada asyik kuliah. Kami masih terkatung-katung tidak jelas nasibnya. Bahkan diusir dari ruang kelas kami sendiri. Salah satu teman saya bahkan punya ide untuk patungan beli spanduk untuk demo.<br />
Akhirnya kami kembali ke tempat duduk yang tadi, yaitu tepat didepan tangga. Tidak ada lagi ruang kelas yang “menganggur” yang bisa menampung kami sore itu, semuanya dipakai kegiatan kuliah. Cukup lama kami menunggu, sampai akhirnya berinsiatif untuk menanyakan ke pihak akademis. Saya dan dua teman saya akhirnya turun ke lantai 1 untuk menanyakan ke pihak akademis. Setelah kami laporkan apa yang tejadi, pihak akdemis hanya bilang…. “iya mas, sebentar lagi saya telepon dosennya…”.<br />
Entah jimat apa yang lupa kami bawa sampai nasib kami sesial ini. Tidak lama kemudian pihak akademis mengatakan kepada kami bahwa kedua dosen pengajar mata kuliah manajemen keuangan tidak bisa mengajar sore ini. Yang satu sedang diluar kota, satunya lagi malah tidak bisa dihubungi.<br />
Saya dan kedua teman sayapun kembali ke lantai 3 untuk memberitahukan kepada teman-teman yang lain. Begitu diberitahu, bukannya marah atau bagaimana, kami semua justru ketawa-ketiwi mentertawakan nasib kami sendiri. Usulan mengenai patungan membeli spanduk demo kembali mengemuka. Tidak lama kemudian salah seorang diantara kami mengusulkan untuk memajukan kuliah jam kedua, agar waktu tidak terbuang percuma dan kami bisa pulang lebih awal.<br />
Saya bersama kedua teman saya kembali turun ke lantai 1. Setelah melaporkan hasil “rapat” kepada pihak akademis, mereka ternyata tidak bisa membuat keputusan. “terserah dosennya mas, kalo mereka bisa dan mau ya nggak apa-apa….” Begitu katanya. Untungnya tidak lama kemudian datanglah dosen yang dimaksud. Setelah berdiskusi sejenak akhirnya sang dosen bersedia untuk memajukan jadwal kuliah jam kedua. Kami semua bersorak karena “akhirnya kuliah juga”.<br />
Saya, kedua teman saya dan pak dosen kami akhirnya naik ke lantai 3. Namun ternyata “penderitaan masih belum selesai”. Sampai di lantai 3 kami kembali dihadapkan pada kondisi yang tidak menyenangkan. Kami kehabisan ruang kuliah. Semua ruang kuliah telah terpakai. Akhirnya kami turun ke lantai 2 dan mencari ruangan kuliah yang “menganggur”. Dan alhamdulilah nemu. Tepat didepan tangga lantai 2 ada ruang kuliah yang kosong.<br />
Ruang kuliah ini bisa dibilang bersejarah, karena ruang inilah yang menjadi saksi kuliah perdana saya dan teman-teman saya. Tapi bila melihat kondisi ruangannya, jelas kurang asoy bila untuk sebuah peristiwa yang bersejarah. Menurut saya, ruangan ini seperti ruang kuliah darurat. Memang sudah ada whiteboard, sejumlah bangku kuliah dan meja untuk dosen. Namun tidak ada secuilpun perangkat komputer disini. Bau cat yang masih tercium juga membuat suasana ruangan ini semakin dramatis saja. Dan yang paling bikin seru adalah tidak adanya pendingin ruangan alias AC diruangan ini. Yang ada hanya sebuah “peng–isis  ruangan” alias kipas angin berdiri. Itupun cuma satu.<br />
Aktivitas kuliahpun berjalan santai. Dosen kami hanya memperkenalkan diri dan membahas secara garis besar tentang mata kuliah yang beliau ajarkan. Nama dosennya adalah Pak Kamarul Imam, beliau adalah salah satu dosen senior di kalangan fakultas maupun universitas. Sedangkan mata kuliahnya adalah metode kuantitatif, sebuah mata kuliah penuh “itung-itungan”.<br />
Pukul 5.30, bertepatan dengan adzan Maghrib, karena memang lagi bulan puasa, kuliah diakhiri. Kami semuapun pulang kerumah masing-masing. Sebelum pulang, saya menyempatkan menelepon teman saya untuk mohon maaf karena saya tidak bisa menghadiri acara buka bersama.<br />
Begitulah yang terjadi dengan kuliah perdana saya. Sekilas memang jauh dari harapan, tapi tetap semuanya tak terlupakan. Sekilas memang bikin kesel, tapi itulah yang membuatnya menjadi unforgetable. Dan memang benar, saat itu saya belum merasakan pengalaman-pengalaman yang “mendebarkan”. Tapi itu semua memang belum saatnya, karena saya mungkin belum siap dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Saya anggap, begitulah cara Tuhan agar saya tidak pernah lupa dengan saat pertama saya kuliah. Tuhan memang Maha Mengatur,  segalanya telah diatur sesuai dengan waktunya.</p>
<p>Nah temanku&#8230;.. itu tadi baru kuliah perdana, belum yang lain. Insya Allah besok-besok akan ada lagi tulisan yang asik-asik dari kegiatan kuliah saya. Mulai dari teman-teman kuliah saya yang aneh-aneh, dosen-dosen yang “unik” dan tentu saja pengalaman-pengalaman yang “mendebarkan”. Jangan lewatkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=76&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/10/23/akhirnya-kuliah-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inspirasi: Kaya</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/08/17/inspirasi-kaya/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/08/17/inspirasi-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 03:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sony dan Sony Heradi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[sony]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Ijinkan saya bertanya. Siapa diantara Anda yang ingin menjadi orang kaya?. Saya yakin semua akan mengacungkan tangan jika ada yang bertanya demikian. Siapapun yang bertanya, siapapun Anda. Berapapun banyaknya harta yang dimiliki, kita akan tetap mengacungkan tangan bila ada yang bertanya demikian. Betul?. Namun sebenarnya mungkin kita tidak tahu betul, seperti bagaimanakah kriteria KAYA yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=73&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ijinkan saya bertanya. Siapa diantara Anda yang ingin menjadi orang kaya?. Saya yakin semua akan mengacungkan tangan jika ada yang bertanya demikian. Siapapun yang bertanya, siapapun Anda. Berapapun banyaknya harta yang dimiliki, kita akan tetap mengacungkan tangan bila ada yang bertanya demikian. Betul?. Namun sebenarnya mungkin kita tidak tahu betul, seperti bagaimanakah kriteria KAYA yang ideal. Buktinya walaupun duit kita banyak, mobil dua lusin, rumah dan tanah ditiap kecamatan ada, plus punya berpuluh-puluh perusahaanpun kita akan tetap cenderung mengacungkan tangan bila kita ditanya dengan pertanyaan tersebut. Sudah kaya tapi masih ingin jadi orang kaya. Apakah itu salah?. Jawabannya tergantung kepada siapa yang ditanya. Dalam tulisan ini Anda akan mengetahui bagaimanakah orang kaya, tentu saja A La Sony.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-73"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap orang memiliki definisi sendiri tentang kata kaya. Itu artinya setiap orang punya standar sendri tentang bagaimanakah dirinya sampai disebut kaya atau sudah merasa kaya. Namun memang manusia cenderung tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Bukankah jika kriteria tentang kaya tersebut sudah terpenuhi seharusnya kita tidak lagi berusaha untuk menjadi lebih kaya?. Bukankah seharusnya kita sudah merasa puas?.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingat pada suatu hari Jumat, saat sedang sholat Jumat. Ada khotib yang mengangkat tema tentang betapa kodrat mansia memang tidak pernah merasa puas. Sang khotib mengutip salah ayat dari Al Quran (atau mungkin Hadis) yang intinya (kalau tidak salah) adalah bila manusia diberi sebuah gunung emas maka ia akan meminta sebuah gunung emas lagi. Nah.. berarti memang kita diciptakan bersama dengan kodrat tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Jadi jika Anda suda punya banyak harta tapi masih ingin lebih kaya lagi. Anda sedang menjalani kodrat kehidupan anda. Tapi apakah itu sepenuhnya benar?.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi setiap orang punya definisi masing-masing mengenai kata kaya. Dan saya yakin sekali bahwa tidak ada kitab suci atau pepatah bijak manapun yang mengatakan bahwa kebahagiaan hanya milik orang-orang kaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi. Apakah yang sebenarnya kita cari?. Kekayaan atau kebahagiaan?. Sebagian besar dari kita berpikir bahwa dengan memiliki banyak harta maka “otomatis” kita akan bahagia. Karena kita bisa membeli apapun yang yang kita inginkan. Apapun. Maka kemudian kita habiskan waktu, tenaga dan pikiran kita untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Namun setelah kita dapatkan harta tersebut,. Apa yang terjadi?. Sebagian besar dari kita terus saja memburu harta tesebut. Seperti tidak tahu kalau sebenarnya harta kita sudah banyak. Sebagian lagi ada yang menikmati “hasil buruan” tersebut. Namun sayangnya masih banyak yang menikmati dengan cara yang salah sehingga harta tersebut malah bikin sengsara. Lalu bagaimanakah kriteria orang kaya A La Sony?.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mempunyai tiga kriteria dasar tentang orang kaya. Saya katakan ini hanya kriteria dasar karena sebenarnya begitu banyak kriteria orang kaya. Nah.. kriteria dasar inilah yang mendasari kriteria-kriteria yang lain. Artinya begitu ketiga kriteria ini terpenuhi, maka dia layak disebut sebagai orang kaya. Tentunya A La Sony.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Pertama. Bola matanya tidak berubah warna saat melihat uang atau benda-benda mewah. Artinya orang ini bisa disebut kaya kalau dia tidak silau melihat harta dan kemewahan. Yang dimaksud dengan dengan tidak silau adalah orang ini tidak kehilangan “akal sehatnya” lalu kemudian menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta yang banyak dan hidup mewah. Orang ini bukannya tidak memiliki keinginan sama sekali untuk memiliki banyak harta dan memilih untuk hidup berkekurangan. Orang ini hanya akan mencari harta dengan cara yang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu siapakah orang-orang ini?. Siapakah orang-orang yang bola matanya tidak berubah warna saat melihat harta?. Jawabannya adalah siapa saja. Bisa jadi saya. Bisa jadi Anda. Bisa jadi bukan Anda (artinya bola mata anda berubah warna saat melihat harta). Bisa jadi orang yang hidup serba kekurangan. Bisa jadi juga orang yang hidup bermewah-mewah. Siapa saja yang tidak silau dengan harta dan kemewahan, dia telah memenuhi kriteria pertama sebagai orang kaya. Sebaliknya siapa saja yang masih silau dengan harta dan kemewahan, betapapun banyaknya harta yang dimiliki, dia masih miskin.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Kedua. Lebih menyukai dan lebih sering tangannya diatas. Maksudnya orang kaya itu adalah orang yang dermawan. Yang disebut orang kaya itu adalah orang mampu berderma tanpa takut miskin. Kenapa?. Karena dia kaya. Kalau ada orang yang enggan berderma dengan alasan takut miskin, dia belum kaya. Bagi orang yang benar-benar kaya, akan lebih menyenangkan baginya bila harta yang dia miliki bisa bermanfaat untuk orang banyak, bukan hanya untuk dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan penjelasan sederhana diatas, tentunya kita dapat mengidentifikasi diri sendiri kita sendiri. Sudah kayakah Anda?. Jika Anda sudah merasa kaya bukankah bila kemudian ada seorang pengemis tua yang meminta-minta kepada Anda, Anda akan mengambil uang dengan satuan terbesar dari dompet Anda?. Apakah seperti itu yang biasa Anda lakukan?. Berapapun harta yang Anda miliki bila anda masih pelit berderma, apalagi alasannya takut miskin, sebenarnya Anda masih miskin.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Ketiga. Pandai bersyukur. Orang kaya yang sebenar-benarnya adalah orang yang senantiasa bersyukur. Bersukur adalah berterima kasih kepada Tuhan dengan cara menikmati segala apa yang dimiliki dan mempergunakkannya untuk sebaik-baik penggunaan. Jadi maksudnya adalah orang kaya itu harus bisa bisa menikmati semua kekayaannya, berapapun jumlahnya. Menurut saya, orang yang tidak mampu bersyukur atas segala anugerah Tuhan adalah orang miskin yang sebenarnya. Miskin sejati.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi bila Anda memiliki harta yang banyak, namun Anda masih jarang bersyukur, jarang berterima kasih kepada Tuhan atas segala anugerah, belum merasa damai dengan segala apa yang Anda miliki dan belum bisa mempergunakan harta Anda untuk sebaik-baik penggunaan. Anda miskin. Tapi bila saat ini Anda memiliki harta yang tidak banyak bahkan mungkin hidup berkekurangan. Namun Anda benar-benar mensyukuri segala karunia Tuhan, hati Anda merasa damai dengan apa yang Anda miliki dan Anda mampu mempergunakan apa yang dimiliki untuk segala sesuatu yang baik. Anda sudah kaya. Kaya sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi orang kaya itu harus bahagia. Punya banyak harta, setiap malam gelisah tidak bisa tidur karena kehilangan hartanya. Miskin. Kenapa miskin? Karena tidak bahagia. Bukankah saat Anda tidur diatas tempat tidur yang mahal, seharusnya Anda tidak kesulitan untuk tidur nyenyak?. Punya sedikit harta, namun setiap malam senantiasa tidur dengan hati yang damai dan penuh syukur. Kaya. Kenapa kaya?. Karena bahagia. Jadi semboyannya adalah kaya karena bahagia. Bukan bahagia karena kaya. Maka jika saat ini Anda masih merasa belum bahagia (berapapun banyaknya harta anda), Anda belum kaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah kriteria kaya A La Sony. Dari tiga kriteria tersebut, ada satu hal penting yang seharusnya bisa Anda lihat. Yaitu tidak adanya kriteria jumlah harta yang harus dimiliki agar bisa disebut kaya. Apa maksudnya?. Maksudnya adalah Anda bisa menjadi orang kaya dengan berapapun harta yang anda miliki. Karena kriteria kaya A La Sony adalah bukan urusan seberapa banyak harta yang Anda miliki. Tapi soal bagaiamana harta tersebut mampu membahagiakan sang pemilik. Namun bukan berarti Anda tidak boleh punya banyak-banyak harta agar Anda bisa masuk kriteria orang kaya. Bukankah akan sangat menyenangkan bila kita mempunyai banyak harta sekaligus bisa bermanfaat bagi orang banyak serta mampu menghasilkan rasa sukur yang berlimpah-limpah dan tentunya hidup berbahagia?.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=73&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/08/17/inspirasi-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Acara Resepsi Pernikahan Kedua Sahabat Saya</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/07/12/dari-acara-resepsi-pernikahan-kedua-sahabat-saya/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/07/12/dari-acara-resepsi-pernikahan-kedua-sahabat-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 05:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan sony]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[resepsi]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Pada akhir pekan di pekan ketiga bulan Juni tahun 2009, malam minggu dan minggu siang saya harus saya habiskan dengan mendatangi resepsi pernikahan dari dua sahabat saya. Yang pertama adalah sahabat saya di sebuah organisasi, acara resepsinya dihelat pada malam minggu. Dan yang kedua adalah sahabat saya pada saat saya kuliah, acara resepsinya dilaksanakan pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=71&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pada akhir pekan di pekan ketiga bulan Juni tahun 2009, malam minggu dan minggu siang saya harus saya habiskan dengan mendatangi resepsi pernikahan dari dua sahabat saya. Yang pertama adalah sahabat saya di sebuah organisasi, acara resepsinya dihelat pada malam minggu. Dan yang kedua adalah sahabat saya pada saat saya kuliah, acara resepsinya dilaksanakan pada hari minggu siang. Dari acara resepsi pernikahan kedua teman saya itu, ada satu hal menarik yang menggelitik saya untuk menulisnya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span id="more-71"></span></span></span></span></p>
<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Yang pertama, yaitu dari acara resepsi yang dilaksanakan pada malam minggu. Teman saya ini, sebut saja namanya Mas D, berasal dari keluarga kaya. Ayahnya adalah pejabat penting di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jember. Sang mempelai wanitapun setali tiga uang, anak orang kaya juga. Maka tak heran bila pesta pernikahan kedua anak orang kaya ini begitu meriah, begitu mewah.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Acara diadakan digedung termewah dan (tentunya) dengan tarif termahal di kota Jember. Gedung ini kalau hanya diisi 500 orang saja masih sangat melompong. Area parkirnya bisa memuat kurang lebih 50 mobil dan ratusan sepeda motor, dan malam itu penuh. Gedung ini didesain dengan sangat mewah. Kabarnya biaya pembangunannya menghabiskan biaya sampai beberapa milyar, itupun dilaksanakan beberapa tahun yang lalu, jadi misalnya dibangun sekarang pasti biaya pembangunannya sudah berlipat-lipat lebih besar.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Berangkat sekitar pukul 7 malam. Saya tidak sendirian, saya bersama teman-teman saya, kami kurang lebih bersepuluh. Setelah memarkir motor, saya dikejutkan oleh lumayan banyak karangan bunga ucapan selamat yang dipajang didepan pintu masuk. Buat saya malah jadi mirip acara pembukaan mall baru. Mendekati pintu masuk, sudah siap dibelakang meja panjang dengan beberapa buku tamu dan gentong kuningan diatasnya, sekitar 10 wanita cantik dengan busana kebaya warna coklat muda. Setelah melakukan “registrasi”, kamipun masuk.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Begitu masuk kami disambut oleh bapak-bapak dan ibu-ibu berpasang-pasang menyalami kami. Yang bapak-bapak menggunakan baju tradisional Jawa berwarna hitam, sedangkan yang ibu-ibu memakai kebaya dengan warna yang sama dengan para </span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em>“receptionist girl”</em></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> didepan pintu masuk tadi. Belakangan saya baru tahu bahwa yang menyalami kami itu tadi adalah bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat setingkat camat dan kepala dinas kabupaten Jember. Bayangkan, yang jadi penerima tamu saja adalah para pejabat setingkat camat dan kepala dinas.</span></span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Masih disekitar pintu masuk. Mata saya tertuju pada beberapa foto prewedding dari kedua mempelai. Ada kurang lebih lima sampai tujuh foto prewedding dengan berbagai gaya yang dipajang dalam acara tersebut. Ada yang bergaya retro dengan efek warna hitam putih serta ada juga yang full color bergaya ceria khas anak muda. Semuanya bagus. Konon semua proses pembuatan foto-foto tersebut dilakukan bukan di Jember, bukan di Surabaya, tapi di Jakarta.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Setelah dari pintu masuk, kami melewati sebuah lorong beralas karpet merah dan masih dengan bapak ibu camat dan kepala dinas berpasang-pasang disepanjang lorong. Menjelang ujung lorong, mata saya tertuju pada pada sebuah benda besar dan panjang tepat didepan pelaminan. Baru kali ini saya melihat benda tersebut secara langsung. Sebelumnya saya hanya pernah melihatnya dalam cuplikan </span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em>behind the scene</em></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> sebuah film. Ya.. yang saya lihat adalah sebuah kamera yang biasa dipakai shooting film action di Hollywood. Sebuah kemera lengkap dengan sebuah alat yang mirip tangga pemadam kebakaran dengan panjang kurang lebih 5 meter, tentunya dilengkapi juga dengan seorang operator. Dengan alat tersebut kamera bisa mengambil gambar para undangan yang sedang makan dari jarak 3 meter dari atas. Gambar yang diambil oleh kamera raksasa tersebut langsung ditampilkan  di sebuah layar besar yang ditempel pada tembok bagian belakang ruangan. Layar besar itupun bukan cuma satu, tapi dua. Yang satunya diletakkan disisi kiri ruangan dengan menampilkan slide berbagai acara yang telah dilaksanakan sebelumnya, seperti momen saat ijab kabul dan prosesi tradisional lainnya. </span></span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Mendekati pelaminan, saya kembali terkagum-kagum. </span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><em>Dasar orang kaya</em></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">. Dalam hati saya.</span></span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pelaminan tersebut berdiri dengan megah dengan panjang tak kurang dari 10 meter. Lengkap dengan taman kecil plus air mancur mini didepannya. Dengan panjang 10 meter, pelaminan itu terasa melompong dengan hanya 6 orang “penghuni”. Kedua mempelai berdiri tepat ditengah lalu dengan jarak sekitar 3 meter di kanan kirinya berdiri kedua orang tua mempelai. Semuanya mengenakan busana kebaya berwarna coklat muda, dengan desain yang sangat mewah tentunya. Setelah bersalaman dengan mempelai, maka dimulailah “acara inti” dari kedatangan kami ke gedung tersebut.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kami pun langsung membaur dengan ratusan undangan yang lain. Berpindah-pindah, dari meja satu ke meja yang lain, dari menu satu ke menu yang lain. Makanan yang dihidangkanpun sangat berkelas dan komplit. Jadi bagi yang tidak boleh makan daging kambing karena asam urat, bisa makan daging ayam. Yang tidak mau makan daging ayam karena takut kena flu burung bisa makan baso sapi. Yang tidak suka baso sapi karena sudah terlalu sering makan bakso bisa makan berbagai macam seafood. Yang tidak boleh makan seafood karena alergi boleh makan sayur-sayuran. Bahkan yang sudah makan dari rumahpun (kalau ada) dipersilahkan minum berbagai macam es, sampai pilek sekalipun tidak masalah.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sembari makan kami dihibur dengan musik. Yang ini juga tidak sembarangan. Kalau yang standar, dalam acara resepsi pernikahan cukuplah hanya dengan seorang keyboardist (lengkap dengan keyboardnya tentu saja) plus satu atau dua orang penyanyi. Tapi karena yang punya acara adalah orang kaya, komposisi standar tentu saja belum cukup. Tiga orang penyanyi (kalau tidak salah), dua orang MC, seorang keyboardist yang ditemani keyboardnya dan (ini yang beda) satu set peralatan (dan musisi) gamelan komplit. Semuanya berkolaborasi dengan apik menghibur para undangan. Melengkapi kebahagiaan sahabat saya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bersama-sama dengan kami ratusan undangan memenuhi ruangan tersebut. Mereka datang dengan memakai baju terbaik dari dalam lemari mereka. Semua tampak glamor dan mewah. Para bapak kebanyakan memakai baju batik, kemeja dan sebagian ada yang memakai jas. Sedang para ibu kebanyakan juga memakai batik lengkap dengan tas kecil dan sandal warna senada. Dan tidak ketinggalan pula perhiasan-perhiasan cantik (sebagian bahkan ada yang bertahtakan berlian) bergelantungan, berjuntai-juntai, bertengger indah di leher, tangan dan jemari mereka.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Diantara para undangan tampak sesosok wajah yang selama ini hanya pernah saya lihat di spanduk-spanduk dan kertas suara pilkada empat tahun lalu. Dialah bapak Bupati Jember. Datang bersama sang istri, setelah bersalaman dan berfoto dengan mempelai beliau langsung memasuki ruang makan VIP. Maklum orang penting.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pendek kata. Acara resepsi pernikahan Mas D – sahabat saya ini – semuanya serba wah. Dari segala aspek, semuanya berkelas. Saya sempat membayangkan, kira-kira berapa rupiah yang dihabiskan Mas D dan keluarganya untuk menghelat acara yang hanya beberapa jam tersebut. Mungkin, jumlahnya cukup untuk membeli rumah saya lengkap beserta isinya. Bahkan mungkin saja masih ada sisa kembaliannya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Nah.. itu tadi dari acara resepsi pernikahan nan mewah dari Mas D, sahabat saya di sebuah organisasi. Selanjutnya saya akan menceritakan acara resepsi pernikahan sahabat saya yang satunya. Acara ini dilaksanakan pada hari minggu siang. Jika anda telah membaca tentang suasana resepsi pernikahan Mas D yang sangat meriah dan mewah. Saya kasih tahu dulu, yang ini juga tidak kalah istimewa.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sebut saja namanya Mbak F. Dia ini adalah teman saya semasa kuliah. Dia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya sudah meninggal ketika sahabat saya ini masih duduk dibangku SMP. Sang ibu meninggal dunia hanya sekitar seratus hari sejak meninggalnya sang ayah. Kenyataan pahit inilah yang akhirnya membuatnya tumbuh menjadi wanita yang tegar, tabah, sabar dan sederhana. Sepeninggal kedua orang tuanya, teman saya ini hidup bersama pamannya. Sang mempelai pria – walaupun saya tidak mengenalnya – tampaknya juga dari keluarga yang sederhana.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sesuai dengan undangan, saya berangkat dari rumah jam 1 siang. Saya berangkat sendirian, karena teman saya yang rencananya mau berangkat bareng ternyata tidak bisa datang. Acara dilaksanakan dirumah almarhum orang tua teman saya ini. Lokasinya didekat stasiun kereta api Jember. Meskipun kami sudah berteman cukup lama, tapi saya tidak pernah bertandang kerumahnya. Saya hanya pernah mengantarnya didepan gang, itupun cuma sekali. “Didepan gang sudah ada janur melengkung, masuk aja, gak jauh kok, gak mungkin nyasar&#8230;.. “. Begitu pesan teman saya, saat dia mengantarkan undangan kerumah.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sayapun mengikuti instruksi teman saya. Begitu tiba di depan gang, saya melihat janur melengkung. Itu membuat saya yakin kalau saya tidak salah gang, sayapun langsung memasuki gang. Masuk kedalam gang, motor harus saya matikan dan harus saya tuntun. Saya tidak mau didamprat warga sekitar. Setelah beberapa meter masuk gang, saya melihat satu lagi janur melengkung disisi kiri gang. Rupanya saya harus masuk gang lagi. Setelah masuk gang kedua, barulah terlihat beberapa motor yang terparkir. Langsung saja saya parkir motor saya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Setelah saya memarkir motor, saya langsung menuju ke tempat acara, tidak jauh dari area parkir. Mendekati lokasi acara, entah kenapa didalam benak saya jadi teringat acara resepsi yang saya hadiri pada malam sebelumnya, yang tidak lain adalah resepsi pernikahan nan mewah dari Mas D. Dan entah kenapa juga saya jadi langsung membandingkan kedua acara resepsi tersebut. Walaupun saya menyadari bahwa sedikit keterlaluan bila saya membandingkan keduanya. Terlalu banyak perbedaan.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sebelumnya, saya membayangkan bahwa acara akan diadakan dalam rumah. Tapi demi berlangsungnya acara tersebut, teman saya harus “mensterilkan” satu ruas jalan diarea acara. Jalan yang lebarnya hanya sekitar satu meter itupun harus ditutup dengan menggunakan semacam kain disatu sisi sedang pada sisi yang lainnya berfungsi sebagai jalan masuk. Pada bagian atas digunakan terpal untuk melindungi dari terik mentari.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Begitu sampai, saya langsung menuju sebuah meja yang dihias sederhana dengan sebuah buku tamu dan sebuah gentong kuningan diatasnya. Meja ini diletakkan dengan menumpang di teras rumah salah satu tetangga. Meja tersebut dihuni oleh dua orang gadis cantik berbaju kebaya warna pink. Setelah “absen” saya langsung menuju ke pelaminan. Teman saya yang mengetahui kehadiran saya kontan saja tersenyum dan melambaikan tangannya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Naik ke pelaminan, saya kemudian bersalaman dan berfoto dengan kedua mempelai. Pelaminan tersebut hanya berukuran kurang lebih tiga meter, diletakkan di tengah area resepsi. Kalau tidak buat resepsi, tempat diletakkannya panggung pelaminan adalah sebuah tikungan kecil sehingga terdapat ruang yang agak lebar untuk ditempati pelaminan. Karena memang hanya tiga meter, maka tidak ada tempat untuk orang tua. Pelaminan hanya untuk yang menikah saja. Sampai disini saya tidak melihat selembarpun foto prewedding. Tidak selembarpun. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Setelah berfoto, saya dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah dipersiapkan. Area hidangan ditempatkan belakang pelaminan. Ditempatkan disebuah ruangan berukuran kurang lebih tiga kali lima meter, hanya ada dua buah meja dan sebuah kipas angin didalamnya. Satu meja panjang untuk tempat makanan dan satu lagi yaitu sebuah meja kecil untuk tempat piring, mangkuk dan sendok. Sementara untuk minuman diletakkan diluar ruangan alias dijalan yang telah disterilkan. Ruangan ini, kalau tidak buat resepsi adalah sebuah ruang tamu dari tetangga teman saya. Teman saya ini meminjam (atau menyewa) ruang tamu tetangganya. Siang itu saya belajar bagaimana seharusnya hidup bertetangga.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Makanan yang dihidangkan juga sangat sederhana. Kalau saya tidak salah, hanya sekitar tiga sampai lima macam menu saja. Dilakukan dengan model standing party, maka dengan sepuluh orang saja didalamnya, ruangan sudah terasa penuh. Beruntung saat saya makan ruangan sedang sepi jadi saya bisa leluasa. Untuk minuman, hanya ada dua pilihan yaitu es buah dan air mineral</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Agar suasana menjadi meriah, para undangan dihibur dengan musik. Suara-suara dahsyat penyanyi dangdut dan keroncong terbaik tanah air menghibur para undangan. Lagu-lagu dangdut dan keroncong yang kami nikmati siang itu didendangkan oleh sang penyanyi sendiri. Ya.. Sang penyanyinya sendiri, bukan penyanyi lokal yang menyanyikannya. Itu karena teman saya hanya menggunakan tape (atau VCD) untuk urusan musik. Tidak ada penyanyi, keyboard atau alat musik apapun dalam acara tersebut. Efektif dan efisien. </span></span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Setelah makan saya segera keluar ruangan karena sesaat setelah saya selesai makan datang segerombolan undangan yang membuat ruangan menjadi penuh seketika. Selesai menikmati es buah, saya bersalaman kembali dengan kedua mempelai, sekalian pamit. Sebelum pulang saya diberi “oleh-oleh” berupa benda kecil berbentuk silinder dibungkus kain berwarna hijau. Sayapun pulang dengan perut kenyang dan hati yang gembira. Tapi sebelum pulang tidak lupa saya taruh sekuntum do&#8217;a untuk kebahagiaan sahabat saya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari acara resepsi Mbak F. Setidaknya tidak sebanyak saat saya menceritakan acara resepsi pernikahan Mas D. Tapi didalam hati, saya sepakat bahwa kedua acara resepsi tersebut sama-sama istimewa.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Jika anda telah membaca kedua cerita saya diatas, saya yakin anda akan segera membandingkan kedua acara tersebut. Persis seperti yang saya lakukan. Tapi perlu anda tahu bahwa yang membuat saya tergelitik untuk menceritakan semua ini bukanlah pada perbedaan diantara kedua acara tersebut. Melainkan pada persamaan diantara keduanya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Seperti halnya perbedaan, persamaan kalau mau dicari juga pasti ada. Dalam dua hal yang sama persis sekalipun, tetap ada perbedaan. Sebaliknya didalam dua hal yang sangat berbeda sekalipun, bila kita mau mencarinya tetaplah terdapat persamaan. Demikian juga dengan kedua acara resepsi teman saya. Meskipun terdapat perbedaan yang sangat banyak dan mencolok, tetaplah ada persamaan diantara keduanya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Sekarang perhatikan. Bukankah keduanya sama-sama acara pernikahan?. </span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Sama-sama ada pelaminannya?. Sama-sama ada acara makan-makan?. Sama-sama ada musik?. Sama-sama ada meja yang ditaruh dipintu masuk, yang dijaga oleh para wanita (bukan pria) lalu diatasnya ada buku tamu dan gentong kuningan?. Sama-sama mengundang saudara saudara dan handai taulan (termasuk saya)?. Dan saya yakin buat para mempelai, acara tersebut sama-sama ingin mereka lakukan sekali saja dalam seumur hidup. Namun diantara banyak persamaan yang ada, ada satu persamaan yang membuat saya sepakat bahwa kedua acara tersebut sama-sama istimewa.</span></span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Para mempelai sama-sama tersenyum. Inilah membuat kedua acara tersebut menjadi istimewa. Saya tidak tahu apa yang mereka rasakan. Saya tidak tahu apa yang Tuhan tiupkan kedalam hati mereka. Tapi saya yakin Tuhan telah menganugerahkan sesuatu yang indah kedalam hati mereka. Terlihat jelas dari raut wajah mereka. Dari sini, saya belajar sesuatu. Belajar senyum? Bukan. Saya balajar tentang keMahaadilan dan kasih sayang Tuhan.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dari kedua acara yang saya datangi tersebut. Membuat saya semakin yakin akan keMahaadilan Tuhan. Tuhan itu adil, sangat adil, tidak ada lagi yang bisa lebih adil. Tuhan juga adalah yang paling menyayangi kita, tidak ada yang bisa lebih menyayangi lagi. Semua terlihat jelas saat saya mulai membandingkan kedua acara istimewa tersebut, lalu kemudian tanpa diduga saya menemukan sebuah persamaan yang menegaskan betapa Tuhan adalah Maha Penyayang.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Perhatikan baik-baik. Dengan perbedaan yang mencolok diantara dua acara tersebut. Perbedaan masa lalu para mempelai. Perbedaan usia. Perbedaan latar belakang keluarga. Perbedaan perjalanan hidup. Perbedaan nasib dan rejeki. Bahkan juga perbedaan kualitas iman. Para mempelai sama-sama tersenyum. Sama-sama tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang melimpah ruah dalam hati mereka.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tidakkah anda melihat betapa adilnya Tuhan?. Tidakkah anda melihat betapa sayangnya Tuhan sama kita?. Siapapun anda. Orang manapun anda. Siapapun orang tua anda. Apapun profesi anda. Seberapapun kayanya anda. Seberapapun miskinnya anda. Berapapun usia anda. Bagiamanapun perjalanan hidup anda. Tuhan memberikan hak yang sama untuk berbahagia. Seperti halnya sakit, semua berhak sehat. Seperti halnya miskin, semua berhak kaya. Seperti halnya tangis, semua berhak tersenyum. Seperti halnya kesedihan, semua berhak bahagia.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.56cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"> <span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Jember, 24 Juni 2009</span></span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=71&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/07/12/dari-acara-resepsi-pernikahan-kedua-sahabat-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mbontot.. Dalam Filosofi&#8230;.</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/06/24/mbontot-dalam-filosofi/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/06/24/mbontot-dalam-filosofi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 12:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sony dan Sony Heradi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Jangan dikira filosofi hanya ada pada hal-hal yang besar, canggih, rumit, kompleks, fantastis, simbolis maupun agamis. Jangan dikira didalam kesederhanaan dan sesuatu yang sepele itu tidak ada filosofinya. Ketahuilah bahwa seringkali dengan berpikir sederhana maka hikmah bisa lebih mudah didapatkan. Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai filososfi dahsyat dari sebuah kegiatan yang sebenarnya sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=69&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Jangan dikira filosofi hanya ada pada hal-hal yang besar, canggih, rumit, kompleks, fantastis, simbolis maupun agamis. Jangan dikira didalam kesederhanaan dan sesuatu yang sepele itu tidak ada filosofinya. Ketahuilah bahwa seringkali dengan berpikir sederhana maka hikmah bisa lebih mudah didapatkan. Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai filososfi dahsyat dari sebuah kegiatan yang sebenarnya sangat sepele. Inilah <em>Mbontot&#8230;</em> dalam filosofi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-69"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini bermula dari sebuah fakta. Pada saat itu adalah suatu siang yang biasa-biasa saja. Hanya saja siang itu adalah siang pertama saya di tempat kerja saya yang baru.  Di tempat kerja saya, kami tidak mengenal istirahat siang. Kalau biasanya di kantor-kantor lain pukul 12 sampai pukul 1 siang mereka menutup kantornya. Tidak untuk kantor saya.  Jam-jam segitu kami masih bisa melayani nasabah sebagaimana biasa. Untuk makan siang dan sholat Dhuhur biasanya kami lakukan secara bergantian. Tapi karena siang itu kantor kami sepi, tidak ada nasabah. Maka kegiatan makan siang bisa dilakukan bersama-sama.  Dan dari sinilah bermula filosofi tentang <em>mbontot.</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Siang itu, kami makan siang bersama-sama di suatu ruangan di salah satu sudut kantor kami. Sebelum makan saya bertanya pada salah satu teman saya, dimana biasanya dia beli makan siang. Teman saya hanya tersenyum sambil mengeluarkan dia punya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Saya kemudian bertanya pada dua orang teman saya yang lain. Mereka juga tersenyum dan mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas mereka sembari menyarankan untuk bertanya kepada Mas Adi, <em>office boy</em> dikantor kami. Saya merasa sedikit heran dengan kebiasaan membawa bekal makan siang dari teman-teman kerja saya. Namun saya justru semakin heran saat saya memasuki tempat makan siang kami. Saat itu saya melihat ada lima orang teman-teman kerja saya sedang asyik dengan bekal makan siangnya masing-masing. Itu berarti lima dari tujuh orang karyawan dikantor saya adalah seorang <em>bontoter </em>sejati.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mbontot</em>. Sebuah kegiatan atau aktivitas yang sangat sepele. Namun setelah beberapa lama saya mengamati dan akhirnya ketularan menjadi seorang <em>bontoter</em> juga. Saya menemukan filosofi yang bukan main dari aktivitas sepele ini. Mari kita bahas.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian dari Anda tidak tahu dengan apa itu <em>mbontot</em>. Jika anda orang Jawa saya yakin anda tahu apa itu <em>mbontot</em>. <em>Mbontot</em> adalah berasal dari kata <em>bontot</em> yang berarti bekal makanan. Sehingga <em>mbontot</em> sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan membawa bekal makanan. Sedangkan orang yang punya kebiasaan membawa bekal makanan baik kekantor, sekolah ataupun ketempat lain namanya adalah <em>bontoter</em> (ini istilah buatan saya sendiri).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam membahas filosofi mengenai <em>mbontot</em> ini, ada tiga kata kunci yang akan saya pakai. Efisien, Keluarga dan Bekal. Ketiga kata kunci inilah yang akan saya gunakan untuk menjelaskan filosofi dahsyat dari <em>mbontot</em>. Sebelum membaca kelanjutan tulisan ini, coba bayangkan seorang teman atau keluarga anda yang saat ini menjadi seorang <em>bontoter</em>. Namun Anda tidak perlu melakukannya bila Anda sendiri adalah seorang <em>bontoter</em>, cukup perhatikan diri Anda sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang <strong>Pertama</strong>. Efisien. Seorang <em>bontoter</em> sejati adalah seorang yang efisien, hemat, teliti, perhitungan bahkan mungkin pelit. Bagi seorang <em>bontoter</em>, pesan moralnya mungkin adalah Hemat Pangkal Kaya. Seorang <em>bontoter</em> rela bangun pagi-pagi untuk menyiapkan bekal makanan, daripada nanti saat makan siang mereka harus keluar uang lagi untuk beli makan siang.</p>
<p style="text-align:justify;">Filosofinya ada pada kata Hemat. Memang hanya satu kata, namun ketahuilah bahwa perbedaan antara orang yang hemat dengan yang tidak sungguh tidak kecil. Dengan jumlah uang yang sama, orang yang hemat bisa mempergunakan uang tersebut dengan lebih bermanfaat daripada orang yang boros. Tapi sayang sekali biasanya orang yang bergaya hidup hemat sering disamakan dengan orang yang pelit alias kikir. Padahal sebenarnya keduanya adalah berbeda. Orang yang hemat adalah orang yang mengedepankan manfaat dalam menggunakan uangnya. Sedangkan orang yang kikir adalah orang yang memilih untuk “mengamankan” uangnya walaupun harus mengorbankan manfaat yang harusnya bisa didapat.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang <strong>Kedua</strong>. Keluarga. Coba perhatikan disekitar anda. Seorang <em>bontoter</em> adalah orang yang sangat menyayangi keluarga. Mereka tidak akan betah bila harus jauh-jauh dari keluarga. Buat mereka tempat ternyaman dimuka bumi adalah rumah mereka sendiri dan keluarga adalah muara dari kedamaian hati dan kebahagiaan. Bila mereka sedang bepergian maka mereka akan lebih memikirkan rumah mereka, bahkan saat berlibur.</p>
<p style="text-align:justify;">Filosofinya adalah Tidak Ada Tempat Senyaman Rumah. Itulah yang menyebabkan mengapa keluarga akhirnya menjadi sumber kebahagiaan. Maka coba perhatikan <em>bontoter</em> disekitar Anda. Jika dia seorang Ayah atau Suami maka kemungkinan besar dia akan menjadi orang yang sederhana alias tidak neko-neko. Jika dia seorang Ibu atau Istri maka dia akan cenderung menjadi seorang yang sederhana, hemat dan sangat perhatian dengan keluarganya. Dan jika dia seorang Anak maka dia akan cenderung menjadi anak rumahan, tidak terlalu suka jajan bahkan mungkin sedikit kurang pergaulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang <strong>Ketiga</strong>. Bekal. <em>Bontot</em> adalah bekal. Bekal makan siang tepatnya. <em>Bontot</em> ini berfungsi antara lain agar para <em>bontoter</em> itu tidak perlu repot-repot beli makan siang. Maka lihatlah para <em>bontoter</em> itu terbiasa dengan persiapan-persiapan. Mereka tidak terbiasa bila harus melangkah tanpa perhitungan dan persiapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Filosofinya ada pada kata persiapan. Seorang <em>bontoter </em> adalah seorang yang selalu mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mereka melangkah. Ini sesuai dengan kepribadian mereka yang perhitungan dan teliti. Mereka lebih memilih untuk “repot didepan” daripada nanti “repot belakangan”. Buat mereka “repot belakangan” jauh lebih merepotkan, maka lebih baik “repot didepan”, karena meskipun sama-sama repot, “repot didepan” umumnya lebih bisa terkendali.</p>
<p style="text-align:justify;">Filosofi terdahsyat dari <em>mbontot</em> sebenarnya ada pada filosofi ketiga. Filosofi ketiga ini menitikberatkan pada kata persiapan. Membahas mengenai para <em>bontoter</em> yang terbiasa dengan persiapan-persiapan. Sikap hidup para <em>bontoter</em> yang terbiasa dengan persiapan-persiapan ini adalah cerminan dari cara pandang hidup para <em>bontoter</em>. Saya percaya sebagian besar para <em>bontoter</em> memandang hidup tidak bisa dijalani dengan tanpa persiapan-persiapan. Sikap hidup uang hasil kerja hari ini habis hari ini, untuk besok bisa cari lagi &#8211; saya percaya &#8211; tidak akan dimiliki oleh para <em>bontoter.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sikap hidup inilah yang disebut dengan visioner. Sikap hidup yang mampu membuat sang manusia bisa melihat jauh kedepan menembus waktu. Maka bagi orang-orang yang visioner (contohnya <em>bontoter</em>), mereka tentunya akan melengkapi kehidupan mereka dengan persiapan-persiapan. Dengan sikap hidup visioner yang mereka jalankan, mereka seakan mampu “melihat masa depan”. Lalu kemudian mereka mempersiapkan diri agar kelak mereka “pantas mulia”. Sikap visioner ini jugalah yang akhirnya membuat para bontoter memilih untuk “repot didepan” daripada “repot belakangan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya sekarang. Apakah manfaat dari bersikap visioner?.Apa enaknya bila kita bisa “melihat masa depan”?.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimanapun ceritanya. Yang namanya masa depan tetaplah sebuah misteri. Kita tidak akan benar-benar tahu sampai peristiwa itu benar-benar terjadi atau saat masa depan itu berubah menjadi masa kini. Namun bagi seorang visioner, seorang yang berpikir panjang, dia mampu menarik masa depan tersebut kedalam benaknya. Sehingga dia akan mampu melihat masa depan, dalam benaknya sendiri. Saya yakin bahwa sebagian besar bontoter adalah seorang yang visioner. Namun tidak semua orang yang visioner adalah seorang bontoter. Berikut akan saya tuliskan beberapa manfaat yang bisa kita dapat bila kita menjadi seorang yang visioner.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>. Persiapan. Apa yang akan anda lakukan sekarang bila anda diberitahu bahwa masa depan anda sudah pasti suram?. Kalau saya. Saya akan melakukan banyak persiapan-persiapan. Saya – ingat, ini kalau saya – akan berusaha sekuat tenaga memperbaiki masa depan saya. Agar setidaknya, hidup saya menjadi bermakna, walaupun belum tentu usaha saya tersebut dapat merubah masa depan saya. Lalu sekarang, bagaimana bila anda tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai masa depan anda?. Bukankah seharusnya Anda lebih banyak melakukan persiapan?.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi visioner adalah menjadi “seakan-akan” mengetahui masa depan kita. Manfaat pertama bila kita bersikap visioner adalah kita bisa mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Berusaha untuk mendapatkan yang terbaik dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk kehidupan. Seorang yang tidak visioner alias berpikir pendek tidak akan bisa mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan. Hal ini karena didalam benak orang tersebut hanya terdapat <em>“short term thinking program”</em> alias program berpikir jangka pendek. Orang seperti ini hanya akan memikirkan keuntungan jangka pendek nan sesaat tanpa peduli bagaimana pengaruhnya dimasa depan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua.</strong> Percaya dan yakin pada cita-cita. Seorang yang visioner telah melihat masa depan cita-citanya lebih dulu dari orang lain. Manfaat selanjutnya dari bersikap visioner adalah kita akan memiliki kepercayaan dan keyakinan yang tinggi pada cita-cita kita. Lalu selanjutnya kita dapat menentukan langkah-langkah yang jelas dalam menggapai cita-cita tersebut. Seorang yang berpikir pendek tidak memiliki kepercayaan dan keyakinan yang tinggi terhadap cita-citanya. Maka hasilnya dia juga tidak akan mampu menentukan langkah-langkah yang pasti dalam menggapai cita-cita. Bagi orang ini cita-cita tidak lebih dari khayalan yang nyaris mustahil terwujud, bukan sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh yang sering ditulis mengenai hubungan antara sikap visioner dengan keyakinan terhadap cita-cita adalah cerita tentang Walt Disney sang pendiri Walt Disney Corporation, pabrik film kartun nomor wahid. Diceritakan pada saat pembukaan wahana Disneyland dimana pada saat itu Walt Disney telah meninggal dunia. Pada saat itu sang istri dari Walt Disney ditanya oleh seorang wartawan. Wartawan tersebut bertanya tentang kira-kira bagaimanakah perasaan mendiang suaminya bila melihat wahana Disneyland telah berdiri dengan megahnya. Dengan tenang, wanita tersebut menjawab.. “suami saya sudah melihatnya”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga.</strong> Takut untuk berbuat buruk dan tidak ragu-ragu untuk berbuat baik. Inilah mungkin manfaat terbesar dari bersikap visioner. Dengan bersikap visioner kita seakan memiliki “rem” dan “gas”. “Rem” yang menghentikan gerak kita pada saat kita hendak berbuat keburukan. Dan “gas” yang akan mempercepat langkah kita saat hendak berbuat kebaikan. Dengan adanya “rem” dan “gas” ini, maka niscaya arah kehidupan kita akan terdorong ke jalan kebaikan dan terhindar dari jalan keburukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang yang berpikiran pendek bisa dibilang memiliki “rem yang blong” dan “gas yang <em>mbrebet </em>(tersendat)”. “Rem yang <em>blong</em> “ berarti dia tidak bisa menahan dirinya sendiri dari perbuatan keburukan. “Lalu gas yang <em>mbrebet </em>(tersendat)” berarti dia akan ragu-ragu bila hendak berbuat kebaikan. Dan hal ini sesunguhnya disebabkan oleh cara berpikir mereka yang tidak visioner.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu perbedaan yang mencolok antara orang yang visioner dengan orang yang berpikir pendek adalah pada cara memandang kehidupan. Seorang yang berpikiran pendek cenderung memandang kehidupan dengan pendekatan “untung – rugi” dan “enak – tidak enak”. Kedua pendekatan ini – menurut saya – merupakan cara pandang hidup yang “jangka pendek banget”. Seorang yang berpikiran pendek akan cenderung berpikir tentang apa keuntungan baginya atau apa enaknya dalam pengambilan keputusan. Buat mereka, yang penting untung dulu atau enak dulu, bagaimana akibatnya apa katanya nanti.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang yang visioner, tentu memiliki cara pandang yang berbeda dengan seorang yang berpikiran pendek. Bagi seorang yang visioner, mereka memandang kehidupan dengan pendekatan “baik – buruk” dan “benar – salah”. Cara pandang inilah yang akhirnya mampu membuat seorang yang visioner takut bila akan berbuat keburukan dan tidak akan ragu-ragu bila hendak berbuat kebaikan. Sebelum mengambil sebuah keputusan, mereka akan cenderung berpikir apakah ini baik? Lalu apakah ini benar?. Buat mereka, yang penting keputusan tersebut baik dan benar dulu. Tapi bukan berarti mereka tidak memikirkan untung dan enaknya. Mereka memikirkannya belakangan. Itu karena mereka yakin bila keputusannya baik dan benar, maka pada akhirnya mereka juga akan merasakan untung dan enak.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi. Diceritakan si A adalah seorang polisi lalu lintas. Pada suatu sore saat si A sedang berpatroli, dia mendapati seorang pengendara yang menerobos lampu lampu merah. Si A kemudian menghentikan kendaraan Si Pelanggar lampu merah. Saat ditanyakan SIM dan STNK, ternyata Si Pelanggar tidak membawanya. Pelanggaran kedua. Hal ini membuat Si A harus menilang Si Pelanggar. Saat hendak ditilang, Si Pelanggar mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya, lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan. Si Pelanggar kemudian menyodorkan uang lima puluh ribuan tersebut sambil berbisik&#8230; “ damai aja deh mas&#8230; “.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang akan dilakukan oleh Si A?. Apakah dia akan tetap menilang Si Pelanggar?. Ataukah akan menerima “proposal damai” yang diajukan oleh si Pelanggar?. Tentunya sangat tergantung dari kepribadian Si A. Apakah Si A ini adalah seorang yang berpikiran pendek atau seorang yang visioner.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila Si A adalah seorang yang berpikiran pendek, maka dia tidak akan ragu-ragu untuk menerima “proposal damai” yang diajukan oleh Si Pelanggar. Bagi Si A yang penting untung dulu atau enak dulu. Dan karena “proposal damai” tersebut menawarkan keuntungan dan ke-enakan, maka terlalu sayang untuk ditolak. Peduli amat soal aturan, toh tidak ada yang tahu. Begitulah orang-orang yang berpikiran pendek. Mereka tidak mampu menahan dirinya sendiri dari perbuatan buruk. Mereka tidak sadar kalau mereka telah melakukan perbuatan buruk, karena mereka hanya berpikir keuntungan yang ada didepan mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun situasi akan berbeda bila Si A adalah seorang yang visioner. Si A pasti akan menolak “proposal damai” yang diajukan oleh Si Pelanggar. Hal ini karena Si A memandang “proposal damai” tersebut dari sisi “baik – buruk” dan “benar – salah”. Sehingga yang akan dihasilkan adalah sebuah keputusan yang baik dan benar, bukan yang memberikan keuntungan semu. Dari sini bisa terlihat bahwa seorang yang visioner akan dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan buruk. Seorang visioner lebih memikirkan “keuntungan sejati” yang pasti akan didapat dari keputusan-keputusan hidup yang baik dan benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah&#8230; itu dia teman. Filosofi dahsyat dari kegiatan sepele bernama mbontot. Dari mbontot, kita belajar sebuah sikap hidup yang sangat bermanfaat bila kita bisa menerapkannya dalam keseharian kita. Visioner alias berpikiran panjang. Jadi, bila Anda adalah seorang bontoter, sebenarnya saat ini anda sedang menjalankan sikap hidup visioner. Lanjutkan.</p>
<p>Jember, 1 Juni 2009</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=69&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/06/24/mbontot-dalam-filosofi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Saya Ini Buta Huruf, Memalukan&#8230;..</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/06/07/ternyata-saya-ini-buta-huruf-memalukan/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/06/07/ternyata-saya-ini-buta-huruf-memalukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 12:17:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sony dan Sony Heradi]]></category>
		<category><![CDATA[buta huruf]]></category>
		<category><![CDATA[memalukan]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[sony]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Ini memang memalukan. Lebih memalukan lagi karena saya baru menyadarinya pada saat usia saya hampir seperempat abad. Saya tidak habis pikir dengan diri saya sendiri. Apa saja yang telah saya lakukan selama ini?. Mengapa baru sekarang saya menyadarinya?. Saya memang bodoh. Tapi saya tidak mau menjadi bodoh terus. Saya bertekad paling lama satu bulan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=67&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini memang memalukan. Lebih memalukan lagi karena saya baru menyadarinya pada saat usia saya hampir seperempat abad. Saya tidak habis pikir dengan diri saya sendiri. Apa saja yang telah saya lakukan selama ini?. Mengapa baru sekarang saya menyadarinya?. Saya memang bodoh. Tapi saya tidak mau menjadi bodoh terus. Saya bertekad paling lama satu bulan ini saya harus sudah bisa membaca.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu siang di satu hari di minggu ke tiga bulan Mei 2009. Saya di-sms oleh salah satu teman saya untuk datang kerumahnya sore hari sebelum Maghrib. Sebenarnya dengan tanpa membaca sms tersebut saya sudah tahu isinya dan saya juga tahu untuk apa teman saya ini mengundang saya kerumahnya sebelum Maghrib. Untuk belajar membaca bersama. Saat itu saya berpikir begini, “ah saya kan sudah pernah belajar, pasti tidak akan ada kesulitan”. Saya memang sudah pernah belajar membaca. Waktu itu saya diajari membaca oleh ibu saya sendiri. Tapi itu sudah lama sekali, terakhir kali kalau tidak salah saat saya SMP, itu berarti sekitar sepuluh tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekitar jam setengah lima sore, mendung yang lumayan pekat menghiasi langit kota Jember. Melihat tren seminggu ini dimana sore hari kota Jember selalu diguyur hujan, wajar jika saya berpikir kalau sore ini pasti hujan juga. Pada saat itu juga sudah ada niat bahwa saya tidak akan datang kerumah teman saya dengan cara menyalahkan hujan. Namun ternyata memang hari itu saya ditakdirkan untuk harus kembali belajar membaca. Hujan yang rencananya mau saya jadikan kambing hitam, sore itu tidak jadi turun. Mendung yang lumayan pekat tadi rupanya hanya mampir.</p>
<p style="text-align:justify;">Kurang lebih lima belas menit sebelum masuk waktu Maghrib kota Jember, akhirnya saya berangkat. Saya pikir teman-teman saya yang lain pasti sudah datang. Namun ternyata saat saya sampai dirumah teman saya. Tidak ada satupun sepeda motor. Yang ada hanya mobil sedan teman saya, berarti dia sudah pulang kerja. Seketika saya cek di daftar sms di hp saya, saya baca lagi sms dari teman saya. Saya takut kalau jangan-jangan saya salah baca. Berkali-kali saya baca ternyata hari dan jamnya benar, tidak ada yang salah. Kemana teman-teman saya yang lain?. Saya bahkan sempat berpikir, apa lebih baik saya pulang saja?!. Namun setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya langsung masuk saja. Dan benar saja, sang tuan rumah, teman saya itu baru pulang kerja. Saat saya datang dia bahkan masih memakai baju seragam kantornya. Sesaat kemudian adzan Maghrib bergema, kamipun sholat berjamaah.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah sholat Maghrib berjamaah, kami mengobrol di ruang tamu. Sesaat kemudian datanglah pak guru pengajar membaca kami. Dengan wajah yang sedikit melankolis lengkap dengan kumis tipis menghiasi wajah beliau serta gaya bicara yang lembut menyiratkan kebersahajaan hidup beliau. Baju batik warna hijau serta bau harum parfum yang tercium menandakan keseriusan beliau dalam membebaskan saya serta teman-teman saya dari penyakit buta huruf. Tidak lama kemudian satu-persatu teman-teman saya mulai berdatangan. Kegiatan belajar membaca kamipun segera dimulai.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku pelajaran telah dipersiapkan sebelumnya oleh teman-teman saya. Masing-masing dari kamipun mendapatkan buku bersampul hitam tersebut. Sampai disini saya masih berpikir bahwa saya tidak akan mendapat banyak kesulitan dalam pelajaran membaca kali ini. Pasti dengan mengulang dua atau tiga kali saja semuanya akan lancar-lancar saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahap awal pelajaran membaca ini adalah mengetahui sejauh mana kemampuan membaca kami. Maka diadakanlah semacam <em>placement test </em>untuk mengetahui level penyakit buta huruf kami. Dan saya beruntung (atau sial) sekali karena mendapatkan giliran yang pertama.</p>
<p style="text-align:justify;">“Assalamualaikum&#8230; dengan mas siapa namanya?” tanya bapak guru kami dengan lembut.</p>
<p>“Waalaikumsalam&#8230; saya Sony ustadz..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Baik mas Sony&#8230;. sudah pernah khatam Al-Qur&#8217;an?”</p>
<p style="text-align:justify;">Jujur saya sedikit kaget dengan pertanyaan tersebut. Tapi walau memang belum pernah khatam, sampai saat disinipun saya masih cukup yakin bahwa kemampuan membaca saya tidak akan jelek-jelek amat.</p>
<p>“Belum pernah ustadz&#8230; “ jawab saya dengan suara sedikit saya pelankan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baik kalau begitu coba ini dibaca&#8230;” kata pak ustadz sambil menunjuk rangkaian huruf arab yang disambung pada salah satu halaman di bagian akhir buku.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah kenapa, pada saat itu huruf-huruf arab itu seolah begitu asing dimata saya. Saya benar-benar tidak mengenali huruf-huruf itu. Saya heran dengan diri saya sendiri, bukankah seharusnya saya bisa?. Kemana perginya pelajaran membaca yang pernah diajarkan oleh ibu saya?. Apa yang terjadi dengan saya?. Maka inilah <em>the moment of truth</em>. Momen saat kebenaran menjadi kenyataan hidup yang tidak lagi bisa saya bantah.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu serasa ada batu besar yang tiba-tiba menindih bahu saya. Di batu tersebut terukir dengan indah empat buah huruf latin yang bila dieja akan terbaca MALU. Ya&#8230; saya malu sekali. Saya malu pada pak ustadz dan teman-teman saya. Saya malu pada diri saya sendiri. Saya malu kepada Allah yang telah begitu banyak melimpahkan anugerah kehidupan kepada saya, tapi ternyata walau hanya untuk membaca firman-Nya saja, saya tidak bisa. Saya lebih malu lagi karena selama ini saya merasa kalau saya telah beribadah dengan baik. Namun pada sore itu mata saya terbelalak karena kebenaran itu benar-benar berubah menjadi kenyataan hidup saya. Sebuah kebenaran tentang diri saya sendiri yang  ternyata begitu hina di hadapan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama beberapa detik saya terdiam. Mulut saya seakan kaku. Lidah saya terasa membeku. Sampai akhirnya saya mencoba membaca rangkaian huruf tersebut, sekenanya. Pak Ustadz mengernyitkan dahinya begitu mendengarkan apa yang terucap dari mulut saya. Seketika itu juga telah jelas bagi beliau bahwa penyakit buta huruf saya sangat parah. Lalu kemudian&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">“Coba yang ini&#8230;.. “ kata pak ustadz sambil menunjuk rangkaian huruf yang lebih pendek.</p>
<p style="text-align:justify;">Walau lebih sederhana, tetap saja saya tidak bisa membacanya. Sayapun hanya bisa mencoba membaca dengan sekenanya. Memalukan. Sekali lagi pak ustadz mengernyitkan dahinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baik mas Sony&#8230;. kita mulai dari jilid pertama saja ya?” kata pak ustadz sembari tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baik pak&#8230; “</p>
<p style="text-align:justify;">Sayapun mulai belajar dari materi paling dasar. Mengenali huruf. Tidak berbeda dengan anak playgroup yang baru belajar membaca, sayapun belajar membaca dengan terbata-bata. Dengan begitu sabar pak ustadz mengenalkan kembali huruf-huruf arab tersebut. Mungkin dalam benaknya beliau berucap.. “Parah bener ini anak&#8230;.”.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sadar ini memang memalukan. Tapi buat saya, inilah bukti betapa Allah sangat menyayangi saya. Allah ingin saya menjadi hamba-Nya yang baik. Allah ingin saya membaca kalimat-kalimat suciNya, agar hidup saya tidak tersesat. Beruntunglah saya karena diajari oleh pak ustadz yang luar biasa sabar. Mulai detik itu, saya bertekad untuk belajar membaca AlQuran dengan baik. Saya targetkan paling lama dalam satu bulan ini saya harus ada perkembangan yang signifikan. Alhamdulillahhi Rabbil Alamien. Terima kasih Ya Allah..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=67&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/06/07/ternyata-saya-ini-buta-huruf-memalukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gara-gara PLN</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/26/gara-gara-pln/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/26/gara-gara-pln/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 13:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan sony]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen sony]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>
		<category><![CDATA[pln]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore saat saya baru pulang kerja, capek banget&#8230;. Sampai di tempat kos, saya langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa tempat kosan saya sedang menjadi korban dari “ulah” PLN yang mencabut suplai listriknya dengan dalih pemadaman bergilir. “Barusan aja matinya mas, kalo liat jadwalnya sih mungkin baru hidup lagi sekitar jam 10 nanti malam&#8230;” kata ibu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=64&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Suatu sore saat saya baru pulang kerja, capek banget&#8230;. Sampai di tempat kos, saya langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa tempat kosan saya sedang menjadi korban dari “ulah” PLN yang mencabut suplai listriknya dengan dalih pemadaman bergilir.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-64"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Barusan aja matinya mas, kalo liat jadwalnya sih mungkin baru hidup lagi sekitar jam 10 nanti malam&#8230;” kata ibu kos saya.</p>
<p>PLN Sialaaaannn. Batinku.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mandi dan sholat Ashar, biasanya kegiatan saya adalah “bergaul” dengan komputer saya, kadang-kadang sampai larut malam. Entah itu main game atau juga kalau sedang mood saya mengerjakan skripsi saya yang sudah lama karatan. Saya memang masih kuliah tapi Alhamdulillah sudah kerja. Tapi karena lampu mati, tentu saja saya tidak bisa “bergaul” dengan komputer saya. Akhirnya saya memilih untuk “bergaul” dengan pacar saya. SMSan maksudnya.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">YANK&#8230; LG NGPAIN?? KANGEN NIH..</span></p>
<p>Dua menit kemudian. Langsung dibalas.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">LG DRUMAH AJA YANK,LIAT TV</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">CYANK LG APA? EH YANK.. TAU GA??</span></p>
<p>(sehabis itu kosong sampai beberapa spasi, sampai saya kira smsnya sudah habis, tapi ternyata diujung sms&#8230;.)</p>
<p><span style="color:#0000ff;">AKU JUGA LG KENGEEEEEE&#8230;..EEENN BANGET MA CHAYANGKU</span></p>
<p style="text-align:justify;">Membaca sms balasannya, rasa sebal saya sama PLN menjadi sedikit berkurang. Pacar saya ini memang sangat pengertian, saya sayang sekali sama dia. Diana namanya. Tidak terlalu cantik sih, tapi orangnya baiiiik banget. Tapi mungkin juga saya bisa bilang begitu karena memang baru sebulan ini kami pacaran, <em>long distance</em> lagi.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">LG DIKOSAN NIH YANK,LG BORING BGT&#8230; DSINI LG MATI LAMPU&#8230;</span></p>
<p>Dua setengah menit kemudian&#8230;</p>
<p><span style="color:#0000ff;">ADUU&#8230;.UUH KACIAA..AANN&#8230;</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">CHAYANGKU LG BERGELAP2RIA YAA&#8230;</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">MAU DITEMENIN?? MAU SMSAN?</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tuh kan&#8230; Saya bilang juga apa&#8230; Pacar saya memang super pengertian. Dia tahu banget kalau saya butuh ditemani. Tapi akhirnya saya harus mengambil keputusan yang sangat bertentangan dengan kehendak hati saya. Itu terjadi setelah saya mengecek sisa pulsa saya. Pulsa sialaaaaann.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">KPENGEN BGT SIH SMSAN MA YAYANK,TP&#8230;. PULSAKU ABIS YANK&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">MO BELI TP KYAKNYA COUNTER HP DKET SINI PADA TUTUP DEH,KAN MATI LAMPU&#8230;.. INI SMSKU YANG TERAKHIR&#8230;</span></p>
<p>Tiga menit kemudian&#8230;.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">YAAA&#8230;.HH. YAUDAH DEH KL GITU&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">DARIPADA CHAYANGKU KESEPIAN,SEKARANG CHAYANGKU PEJAMKAN MATA,ABIS ITU BAYANGIN WAJAHKU YANG IMUT2 INI&#8230; HE7&#8230;</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">LOVE YOU&#8230;.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sial sekali saya hari ini. Kenapa harus mati lampu? kenapa pulsa pake habis segala? bareng-bareng lagi&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan akhirnya memang tidak ada yang bisa saya lakukan. Setelah sholat Maghrib saya mencoba baca buku dengan diterangi cahaya lilin. Namun daripada minus mata saya semakin parah akhirnya ya saya hentikan saja. Setelah sholat Isya, saya putuskan untuk langsung tidur saja. Lilin saya matikan, takut kalau lilinnya jatuh lalu besoknya kamar kos saya sudah dalam keadaan hangus.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata untuk terlelap dalam keadaan gelap tidak semudah yang saya pikirkan.Saya tidak bisa tidur. Iseng-iseng saya buka HP saya. Sesaat kemudian&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">YANK&#8230;. UDAH TIDUR YA?? KLO BLUM JGN LUPA BAYANGIN WAJAHKU YG IMUT2 INI YA&#8230; BIAR GA KESEPIAN&#8230;. HE7&#8230;</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">LOVE YOU&#8230;.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Pacar saya sms. Hati ini senang campur sebel. Senang karena sms itu semakin membuat saya semakin yakin kalau dia sayang sekali sama saya,begitu pula sebaliknya. Sebel karena saya tidak bisa membalas sms tersebut ditambah lagi setelah saya lihat jam melalui hp saya, menunjukkan angka 22.00 namun keadaan masih saja gelap gulita. PLN ingkar janji rupanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya saya putuskan untuk menuruti apa yang tertulis dalam sms pacar saya. Menghibur diri dengan cara membayangkan wajah pacar saya, itulah yang akan saya lakukan. Saya pejamkan mata saya, sebentar, lalu saya buka lagi. Tidak ada bedanya. Sama-sama gelap. Ya sudahlah&#8230; akhirnya saya bayangkan saja wajah pacar saya dengan mata terbuka, toh sama juga. Sama-sama gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat kemudian. Terbayang wajah pacar saya. Kulitnya yang putih, lesung pipitnya yang benar-benar mempesona. Semua terbayang. Indah sekali. Cantik sekali. Saya bayangkan dia berbaju serba putih. Benar-benar cantik. Rambutnya yang panjang terurai dengan begitu indah, menutupi sebagian wajah cantiknya. Namun setengah detik kemudian saya teringat&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Lho&#8230; bukannya minggu kemarin dia saya antarkan ke salon untuk memotong rambutnya. Bukankah seharusnya sekarang rambutnya pendek sebahu mirip punyanya Dian Sastro? yang ini kok panjang? jangan-jangan&#8230;..</p>
<p style="text-align:justify;">ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya melihat hantu. Saya yakin sekali. Dan saya takut sekali. Saya benamkan wajah saya dibantal. Sesaat kemudian&#8230;</p>
<p>LHAAAAA&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdengar suara orang-orang dari luar. Listrik hidup. <em>Right Time On The Right Situation</em>. Terima kasih PLN. Namun saya masih belum berani melepaskan wajah saya dari bantal. Masih takut. Sambil terus Istighfar saya tidak lepaskan wajah saya dari bantal sampai akhirnya saya terlelap.</p>
<p>Esoknya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Saat saya hendak berangkat kerja. Tanpa sengaja saya dengar para tetangga kosan sedang ngobrol.</p>
<p style="text-align:justify;">“&#8230;Eh tau ga? sekitar dua tahun lalu dikamar yang depan itu ada anak kos yang bunuh diri lho&#8230; cewek, masih muda, orangnya cantik, rambutnya panjang&#8230;. katanya sih karena putus cinta&#8230;.”</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah yang samar-samar saya dengar. Dikamar depan, dua tahun lalu ada anak kos yang bunuh diri, anaknya cewek, cantik, rambut panjang, penyebabnya putus cinta. Begitulah kurang lebih kesimpulannya. Setengah detik kemudian saya kaget setengah mati&#8230; Itukan kamar saya&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p>ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Bibir saya tak henti berIstighfar. Malam harinya saya numpang tidur di kamar teman kos saya. Saya tidak berani tidur dikamar kos saya sendiri. Esoknya tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk pindah kosan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya benar-benar tidak habis pikir. Kenapa? kenapa? kenapa? dan kenapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa lampu mati? kenapa pulsa saya habis? kenapa saya harus ketemu hantu? dan kenapa harus bareng-bareng?.</p>
<p>Gara-gara PLN.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=64&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/26/gara-gara-pln/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fakta Besar.. Tak Terbantahkan,Tak Terelakkan&#8230;. Nusantara Jaya (2 Habis)</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/21/fakta-besar-tak-terbantahkantak-terelakkan-nusantara-jaya-2-habis/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/21/fakta-besar-tak-terbantahkantak-terelakkan-nusantara-jaya-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 02:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan sony]]></category>
		<category><![CDATA[fakta besar]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[nusantara jaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Pada seri sebelumnya dari tulisan ini (klik disini untuk membaca), saya telah tuliskan tentang beberapa fakta yang tak lagi terbantahkan tentang Indonesia. Harapan saya setelah membacanya anda memiliki cara pandang yang berbeda mengenai tanah air kita. Pada tulisan ini saya akan menuliskan tentang fakta tentang “karpet merah” yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk Indonesia. Kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=61&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Pada seri sebelumnya dari tulisan ini <a title="Nusantara Jaya 1" href="http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/17/fakta-besar-tak-terbantahkan-tak-terelakkan-nusantara-jaya/" target="_self">(klik disini untuk membaca)</a>, saya telah tuliskan tentang beberapa fakta yang tak lagi terbantahkan tentang Indonesia. Harapan saya setelah membacanya anda memiliki cara pandang yang berbeda mengenai tanah air kita. Pada tulisan ini saya akan menuliskan tentang fakta tentang “karpet merah” yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk Indonesia. Kemudian beberapa “syarat” dari Tuhan (mungkin) agar Nusantara kelak berjaya. Serta apa yang bisa kita lakukan agar “persyaratan” tersebut terpenuhi, hingga mimpi kejayaan Nusantara kelak menjadi kenyataan.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span id="more-61"></span><br />
</span></span></p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Pada tulisan sebelumnya saya telah tuliskan bahwa segala hal didunia ini – tanpa kecuali &#8211;  terjadi bebas dari yang namanya kesia-siaan. Semua memiliki alasan dan tujuan. Tidak ada yang namanya kebetulan. Sekarang pikirkan tentang fakta berikut ini.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Pada tulisan yang pertama telah saya tuliskan bahwa kemerdekaan Indonesia disiapkan oleh Tuhan bersama dengan sebuah “karpet merah” yang sangat mewah. Yaitu Perang Dunia Ke 2. Kenapa saya istilahkan dengan “karpet merah”? Karena Perang Dunia Ke 2 adalah titik terang perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Lalu kenapa “karpet merah” ini begitu mewah? Karena peristiwa Perang Dunia Ke 2 merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah dunia. Begitu pentingnya peristiwa ini sehingga mampu merubah paras dunia untuk selamanya. Apa yang berubah dari dunia setelah Perang Dunia Ke 2?. Berakhirnya era penjajahan antar bangsa dimuka bumi. Perang Dunia Ke 2 adalah ibarat kembang api raksasa yang menandai berakhirnya era panjajahan antar bangsa. Terbukti pasca Perang Dunia ke 2 banyak negara-negara yang kemudian merdeka dan yang pertama adalah Indonesia. Itulah mengapa saya menganggap bahwa Perang Dunia ke 2 adalah “karpet merah” yang mewah, yang disiapkan oleh Tuhan untuk kemerdekaan Indonesia. Inilah satu fakta lagi tentang Indonesia.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Dulu, agar Indonesia merdeka, Tuhan memberikan sebuah “persyaratan”. Yaitu satu hal yang bernama PERSATUAN. Lalu kemudian setelah pemuda-pemudi Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda sebagai simbol persatuan dan kebangkitan bangsa, maka terpenuhilah “persyaratan” tersebut. Lalu sekarang ternyata Tuhan juga memberikan “persyaratan” agar Indonesia menjadi negara yang besar. Apa saja syaratnya? Seberapa jauh kita berhasil melengkapi persyaratan tersebut? Baca terus&#8230; </span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong>Yang Pertama.</strong></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> Perbaiki moral. Karena tidak akan mungkin Tuhan akan menganugrahkan kejayaan kepada sebuah bangsa yang rakyatnya bermoral bejat. Tuhan hanya akan menganugrahkan kejayaan kepada sebuah bangsa yang rakyatnya bermoral tinggi. Lihatlah negara-negara maju, lihat masyarakatnya. Mereka disiplin, mereka jujur, mereka bertanggung jawab, mereka junjung tinggi keadilan, mereka menghormati orang lain, mereka peduli dan banyak lagi nilai moral kehidupan yang mereka terapkan dalam keseharian mereka. Tidak heran Tuhan menganugrahi kejayaan kepada mereka. Lalu seberapa jauh Indonesia memenuhi persyaratan yang satu ini?.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Perhatikanlah, sekarang di Indonesia sudah banyak pribadi, lembaga-lembaga, buku bahkan acara televisi yang mengambil peran sebagai “pengingat orang”. Mereka ini ada atau eksis untuk mengingatkan kita agar memperbaiki moral. Ada yang berdasarkan falsafah suci agama tertentu dan ada juga yang berdasar dari kejadian dalam kehidupan yang memang bisa membuktikan bahwa hidup dengan moral bejat tidak ada baik-baiknya sama sekali. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia saat ini cukup bersemangat untuk merubah moral hidup menjadi lebih baik. Ini juga membuktikan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari bahwa cara hidup yang terbaik adalah dengan cara mematuhi prinsip-prinsip moral kehidupan. Dan ternyata sudah sampai sejauh itulah pencapaian Indonesia dalam memenuhi persyaratan yang pertama untuk menjadi sebuah bangsa yang besar.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong>Yang Kedua.</strong></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> Bangsa ini harus punya lebih banyak wirausahawan. Entrepreneur atau wirausaha dibutuhkan untuk menopang perekonomian. Entrepreneur inilah solusi terbaik dalam memecahkan salah satu permasalahan terbesar yang dihadapi Indonesia yaitu pengangguran. Entrepreneur juga salah satu langkah yang dibutuhkan agar perekonomian kita bisa mandiri. Lalu bagaimana situasi dan kondisi dunia kewirausahaan di Indonesia? Sudahkah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah negara yang besar?.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Saya pernah membaca bahwa untuk menjadi sebuah negara yang maju – khususnya secara ekonomi – dibutuhkan sedikitnya 5% dari penduduknya menjadi wirausahawan. Saat ini jumlah wirausahawan di Indonesia belum 0.5% dari total penduduk Indonesia, sedikit sekali. Namun lihatlah disekeliling kita. Dimajalah, koran, buku-buku, acara radio dan tayangan televisi kini sudah semakin gencar menyuarakan gerakan berwirausaha. Lembaga-lembaga keuangan baik milik pemerintah maupun swasta kini semakin semangat membantu para pelaku bisnis skala kecil. Indonesia dilanda wabah entrepreneur. Saya percaya bahwa wabah ini semakin lama akan semakin  meluas. Kedepan akan banyak entrepreneur-entrepreneur baru yang bermunculan. Dampaknya akan sangat berarti bagi perekonomian kita. Nah.. itulah pencapaian bangsa kita dalam memenuhi persyaratan kedua untuk menjadi negara yang besar. Walaupun masih sangat sedikit, jumlah wirausahawan di Indonesia semakin lama semakin banyak.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"><strong>Yang Ketiga.</strong></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US"> Bersatulah. Masih ingat syarat apa yang diberikan Tuhan agar Indonesia merdeka? PERSATUAN. Saya percaya syarat ini bukan sembarang syarat. Saya percaya (lagi) syarat ini juga berlaku untuk menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar. Dan saya juga percaya (lagi) bahwa Tuhan mentakdirkan Indonesia menjadi sebuah negara kesatuan, bukan terpisah-pisah. Lalu masihkah kita bersatu? Sudah cukupkah persatuan yang kita jalani selama ini membawa Indonesia menjadi lebih baik?. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Sayang beribu sayang. Saat ini semangat persatuan di negara kita sudah tak sehebat dulu. Persatuan seolah hanya menjadi slogan tak bermakna. Kita sudah mulai tercerai berai. Kalau dulu kita bisa bersatu, mengapa sekarang tidak bisa? Bukankah keadaaan sekarang lebih baik daripada dulu saat kita dijajah?. Inilah salah satu kesalahan terbesar kita. Kita tidak bisa mempertahankan persatuan di antara kita. Ketahuilah temanku, bahwa bangsa ini tidak akan menjadi besar bila kita hanya disibukkan dengan sakit hati karena persoalan sepele. Dan ketahuilah bahwa dengan bersatu kita akan menjadi lebih kuat, lebih siap menghadapi tantangan menuju kejayaan Nusantara.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Itulah mungkin tiga syarat yang harus kita penuhi agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Sekarang perhatikan baik-baik. Bukankah saat ini kita sedang dalam proses memenuhi segala persyaratan tersebut? Bukankah segala persyaratan tersebut sudah mulai bisa kita penuhi?. Jika kita flashback kembali pada masa sebelum merdeka, tepatnya pada sekitar tahun 1920an. Saat itu para pemuda Indonesia menggelar kongres yang akhirnya melahirkan tonggak kebangkitan bangsa yaitu Sumpah Pemuda. Saat itu pemuda Indonesia sedang berjuang memenuhi “persyaratan” untuk bisa merdeka. Bukankah kondisi yang hampir sama sedang kita jalani saat ini?. Dan bukankah ini sebuah fakta yang tak bisa kita bantah?. </span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Ada satu lagi fakta menarik tentang bangsa kita. Fakta inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa kejayaan Nusantara adalah sangat mungkin. Inilah fakta tentang “karpet merah” dari Tuhan bagi kejayaan Nusantara. Ya&#8230; seperti yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu. Saat itu Tuhan menganugrahkan “karpet merah” yang sangat mewah untuk kemerdekaan Indonesia. Perang Dunia ke 2. Dan saat ini “karpet merah” itu sudah ada, dan tidak kalah mewah dari “karpet merah” puluhan tahun yang lalu. </span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Anda tentu sudah mengetahui bahwa saat ini dunia sudah tidak senyaman dulu. Bagi banyak orang diseluruh dunia, saat ini adalah saat-saat yang sangat berat untuk dilalui. Ada yang tidak kuat, lalu bunuh diri. Singkat kata, dunia sedang krisis. Krisis perekonomian global. Itulah yang saat ini begitu ramai dibicarakan orang diseluruh dunia. Semua negara tanpa kecuali merasakan akibatnya. Beruntung tidak banyak senjata yang terlibat sampai saat ini. Setidaknya tidak sebanyak saat Perang Dunia ke 2. Namun ternyata keadaan dunia saat ini kurang lebih seperti Perang Dunia ke 2 dengan tanpa peluru dan bom. Sama kacaunya. Dan itulah yang saya sebut dengan “karpet merah” nan mewah untuk kejayaan Nusantara.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Perhatikan baik-baik. Sekarang coba kita bandingkan antara “karpet merah lama” yaitu Perang Dunia ke 2 dengan “karpet merah baru” yaitu krisis perekonomian global. Ada beberapa fakta menarik yang bisa dibahas. Fakta-takta ini semakin membuktikan bahwa krisis perekonomian global adalah “karpet merah” untuk kejayaan Nusantara.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>Yang pertama.</strong> Kedua “karpet merah” ini adalah sama-sama peristiwa penting dalam sejarah yang mampu merubah wajah dunia untuk selamanya. Perang Dunia ke 2 telah menorehkan perubahan berupa terhapusnya penjajahan antar bangsa di seluruh dunia. Hal ini ditandai dengan banyaknya negara-negara yang kemudian merdeka pasca Perang Dunia ke 2. Sedangkan krisis perekonomian global sangat berpotensi untuk meruntuhkan sistem ekonomi ala barat yang selama ini mendominasi dunia. Kapitalisme. Untuk saat ini setidaknya krisis telah membuka mata dunia bahwa sistem ekonomi kapitalisme sangat rentan terhadap krisis dan berpotensi cukup besar mengacaukan perekonomian dunia.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>Yang kedua.</strong> Keduanya sama-sama “sukses” memporak-porandakan negara adikuasa pada masanya masing-masing. Perang Dunia ke 2 membuat negara adikuasa pada saat itu, Uni Soviet. Berantakan, bahkan sampai terpecah-pecah menjadi beberapa negara. Sedangkan krisis perekonomian global mampu membuat negara adikuasa masa kini, Amerika Serikat. Terjungkal ke jurang curam perekonomian. Amerika Serikat jatuh bersama sistem ekonomi kapitalisme yang mereka anut.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>Yang ketiga.</strong> Kedua peristwa besar ini menjadi “biang sial” bagi sebuah negara  besar bernama Jepang. Seperti kita tahu Jepang adalah sebuah negara yang sangat kuat dari sisi ekonomi. Nomor dua setelah Amerika Serikat. Namun kedua “karpet merah” kita ini ternyata “sukses” memporak-porandakan negara Doraemon ini. Jepang memang salah satu negara yang merasakan dampak terburuk dari kedua peristiwa besar ini. Pada Perang Dunia ke 2, Jepang benar-benar luluh lantak setelah dua kota pentingnya yaitu Nagasaki dan Hiroshima rata dengan tanah. Sedangkan krisis perekonomian global kali ini mampu memukul perekonomian Jepang dengan telak. Perekonomian Jepang saat ini sedang berantakan. Bahkan menurut artikel yang pernah saya baca, perekonomian Jepang saat ini sama buruknya dengan perekonomian mereka pasca Perang Dunia ke 2. Itu artinya, saat ini Jepang bagaikan kehilangan kembali Nagasaki dan Hiroshima.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Nah&#8230; itulah fakta-fakta tak terbantahkan tentang Indonesia, tanah air kita. Fakta-fakta itulah yang membuat saya yakin bahwa kejayaan Nusantara takkan terelakkan lagi. Entah kapan masa itu akan datang, tapi saya yakin pasti akan terjadi. Anda boleh percaya boleh tidak. Anda juga boleh mengatakan bahwa fakta-fakta tersebut adalah “kebetulan” semata. Tapi saya percaya bahwa perbedaan antara orang yang percaya dan tidak percaya tidaklah kecil. Perbedaannya ada pada kata optimis dan pesimis. Bagi anda yang percaya, saya yakin anda akan optimis sekali bahwa Nusantara kelak akan berjaya. Namun bila anda tidak percaya, bisa jadi anda akan pesimis mengenai masa depan bangsa kita. Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa, tidak ada yang namanya kebetulan. </span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span lang="en-US">Jember, 2 Mei 2009</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.53cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=61&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/21/fakta-besar-tak-terbantahkantak-terelakkan-nusantara-jaya-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fakta Besar&#8230; Tak Terbantahkan, Tak Terelakkan&#8230;. Nusantara Jaya&#8230; (1)</title>
		<link>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/17/fakta-besar-tak-terbantahkan-tak-terelakkan-nusantara-jaya/</link>
		<comments>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/17/fakta-besar-tak-terbantahkan-tak-terelakkan-nusantara-jaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 05:22:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sony heradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[tulisan sony]]></category>
		<category><![CDATA[fakta besar]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[nusantara jaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sonyheradi.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Sounds great? Too high? Too optimistic? or kepedean gitu?. Mungkin sebagian dari anda berpikiran seperti itu. Anda tidak salah, itu wajar. Tapi itu jika anda belum membaca keseluruhan dari tulisan ini. Harapan saya, setelah membaca keseluruhan tulisan ini anda akan mempunyai cara pandang berbeda mengenai Indonesia, tanah air kita. Tulisan ini sangat berkaitan erat dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=54&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sounds great? Too high? Too optimistic? or kepedean gitu?. Mungkin sebagian dari anda berpikiran seperti itu. Anda tidak salah, itu wajar. Tapi itu jika anda belum membaca keseluruhan dari tulisan ini. Harapan saya, setelah membaca keseluruhan tulisan ini anda akan mempunyai cara pandang berbeda mengenai Indonesia, tanah air kita. Tulisan ini sangat berkaitan erat dengan tulisan saya mengenai krisis perekonomian global khususnya pada bagian yang ketiga, yaitu bagian yang membahas mengenai <a title="&quot;dampak positif&quot; krisis global" href="http://sonyheradi.wordpress.com/2009/04/18/sony-tentang-krisis-global-3-habis/" target="_self">“dampak positif” krisis perekonomian global bagi Indonesia.</a> Maka dengan penuh percaya diri saya katakan kepada anda bahwa judul tulisan ini adalah sebuah possibility, sebuah kemungkinan dan sebuah keniscayaan.</p>
<p><span id="more-54"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah anda percaya pada yang namanya kebetulan?. Kalau saya sih tidak. Bagi seorang muslim, kalimat bahwa tidak ada sehelaipun daun yang jatuh tanpa izin Allah, sudah begitu akrab ditelinga. Kalimat ini menegaskan bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Segala hal terjadi lengkap beserta alasan dan tujuannya alias bebas dari kesia-siaan. Sehelai daun yang jatuhpun, ada alasan dan tujuannya. Alasannya mungkin adalah daun tersebut sudah terlalu tua sehingga sudah waktunya jatuh, sedangkan tujuannya mungkin adalah agar tumbuh daun-daun yang baru agar sang pohon senantiasa tumbuh berkembang menjadi pohon yang rindang. Segala hal memiliki alasan dan tujuan, itulah inti tulisan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sama seperti segala hal yang ada, krisis perekonomian global tidak akan terjadi dengan kesia-siaan, pasti ada alasan dan tujuannya. Dengan terjadinya krisis perekomian global, mungkin Tuhan hendak berkata seperti ini kepada manusia&#8230;  “ Hai Manusia Ganti Sistem Perekonomian Kalian, Sistem Seperti Itu Hanya Akan Membuat Kalian Semakin Serakah, Nantinya Kalian Juga Yang Sengsara. Bantulah Yang Membutuhkan, Jangan Hanya Memperkaya Diri Sendiri, Nanti Kalian Juga Yang Akan Senang ”.</p>
<p style="text-align:justify;">Didalam paragraf-paragraf selanjutnya saya akan tuliskan bahwa apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi di Indonesia sama sekali bukan sebuah kebetulan. Semua ada alasan dan tujuan, bebas kesia-siaan. Semua telah diaturNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama 350 tahun bangsa kita hidup dalam penjajahan. Tak terhitung sudah nyawa yang melayang serta darah dan air mata yang tertumpah. Semua punya keinginan yang sama yaitu lepas dari belenggu penjajahan Belanda. Pada tahun 1942, Perang Dunia ke 2 meletus. Negara-negara besar (termasuk negara yang menjajah kita yaitu Belanda) “asyik” berperang. Singkat kata akhirnya Belandapun melepaskan Indonesia dengan “ikhlas” ke tangan Jepang. Indonesiapun “berpindah tangan” ke negeri matahari terbit. Tiga tahun Jepang menjajah Indonesia. Tahun 1945 pasca peristiwa pengeboman pelabuhan Pearl Harbour oleh Jepang, Amerika membalas dengan meluluhlantakkan dua kota penting Jepang yaitu Nagasaki dan Hiroshima. Jepang berantakan tak karuan. Pasukan mereka di Indonesiapun ditarik pulang kembali ke Jepang. Kemudian terjadilah apa yang disebut kekosongan kekuasaan atau bisa dibilang Indonesia saat itu “tidak ada yang punya”. Keadaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh pemuda Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan akhirnya, 17 Agustus 1945 lahirlah sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Itulah secara singkat tentang perjalanan lahirnya Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda percaya (atau sangat percaya) tentang yang namanya kebetulan. Maka mungkin bagi anda untuk berpikir bahwa “kebetulan” terjadi Perang Dunia ke 2 sehingga Belanda menyerahkan Inonesia begitu saja kepada Jepang setelah ratusan tahun menjajah Indonesia. Atau mungkin saja anda berpikir bahwa “kebetulan” Jepang sedang luluh lantak karena dua kota pentingnya hancur sehingga akhirnya Indonesia bisa merdeka. Begitukah?. Saya percaya anda tidak akan “sampai hati” untuk berpikiran seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidakkah anda melihat? Bahwa Perang Dunia ke 2 yang merupakan masa-masa kelam duniapun memiliki tujuan dalam keberadaannya. Salah satu tujuannya mungkin adalah terhentinya penjajahan Belanda di bumi Indonesia. Begitu pula dengan hancurnya Nagasaki dan Hiroshima. Mungkin salah satu tujuan terjadinya peristiwa ini adalah kemerdekaan Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Bangsa Indonesia lahir tidak lama setelah terjadinya peristiwa penting dalam sejarah. Indonesia adalah bangsa pertama yang merdeka pasca Perang Dunia ke 2, maka bisa dikatakan bahwa Perang Dunia ke 2 adalah “Karpet Merah Dari Tuhan” dalam rangka menyambut kemerdekaan Indonesia.  Itulah salah satu fakta tentang Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang pikirkan baik-baik tentang fakta yang satu ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda seorang muslim, saya percaya anda pasti pernah mendengar tentang hadis berikut ini. Diriwayatkan hadis ini disabdakan oleh Baginda Rasulullah setelah selesainya Perang Badar, perang terbesar umat muslim pada masa Rasulullah. Rasulullah berkata kepada para sahabat saat itu.. “Sahabatku&#8230; Kita Baru Saja Melewati Perang Badar, Perang Yang Sangat Besar. Namun Ketahuilah Bahwa Kita Akan Menghadapi Perang Yang Lebih Besar Lagi”. Para sahabat kemudian bertanya. “Perang Apakah Itu Ya Rasulullah ? Bukankah Perang Badar Ini Adalah Perang Yang Sangat Besar”. Rasulullah kemudian menjawab. “Perang Tersebut Adalah Perang Melawan Hawa Nafsu”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang coba perhatikan. Apa yang disabdakan oleh Rasulullah sangat tepat bahkan persis dengan yang dialami oleh Indonesia. Bangsa Indonesia telah mengalami dan menyelesaikan “Perang Badarnya”. Yaitu saat bangsa ini berjuang tanpa lelah selama 350  tahun untuk lepas dari belenggu penjajahan. Lalu kemudian yang terjadi adalah Perang Dunia ke 2, kemudian Nagasaki dan Hiroshima hancur, kekosongan kekuasaan dan merdekalah Indonesia. Lalu kemudian setelah “Perang Badar” usai, Indonesia dihadapakan pada perang yang jauh lebih berat. Indonesia berperang melawan dirinya sendiri, melawan hawa nafsunya sendiri. Berperang melawan kemiskinan, kebodohan, kemalasan, kebejatan moral dan banyak hal negatif lainnya. Perang super besar ini tidak perlu pakai senjata, karena memang sesungguhnya senjatanya sudah ada pada diri manusia Indonesia itu sendiri. Bukankah ini semua fakta yang tidak bisa kita bantah?. Masih ada fakta yang lain lagi, baca terus&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan yang satu ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan sejarah bangsa Indonesia, khususnya pada era sebelum Indonesia merdeka, sekitar tahun 1920an sampai Indonesia merdeka tahun 1945. Lalu bandingkan dengan masa-masa perjuangan pada saat Belanda baru saja menjajah Indonesia. Apa perbedaan dari dua masa tersebut?. Satu kata saja yaitu PERSATUAN. Pada masa awal penjajahan, rakyat Indonesia berjuang melawan penjajah dengan caranya sendiri-sendiri, belum ada kesatuan. Belandapun dengan mudahnya mengadu domba kerajaan-kerajaan besar era Nusantara lama. Akhirnya yang terjadi adalah kita tidak pernah menang melawan Belanda. Bagaimana dengan perjuangan periode 1920an?</p>
<p style="text-align:justify;">Pada sekitar tahun 1920an, sebagian rakyat Indonesia sudah ada yang “pintar” karena telah bersekolah ke Belanda. Sebagian yang cuma sedikit orang ini mulai menyadari bahwa persatuan mutlak diperlukan untuk sebuah kemerdekaan. Maka pada tahun 1928 pemuda-pemudi dari seluruh penjuru tanah air berkumpul, mereka merencanakan sebuah gerakan penting untuk kemerdekaan Indonesia. Lalu kemudian berdirilah tonggak penting kebangkitan bangsa Indonesia. 28 Oktober 1928 para pemuda-pemudi dari seluruh penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu dibawah bendera merah putih. Sumpah Pemuda untuk pertama kalinya diikrarkan. Hal ini menandai kebangkitan bangsa Indonesia untuk menyambut kemerdekaannya. Dan akhirnya setiap tahun tanggal 28 Oktober kita peringati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Lalu apa kesimpulannya??</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali pada konsep mengenai kebetulan. Pada paragraf sebelumnya, saya telah tuliskan bahwa segala hal terjadi lengkap beserta alasan dan tujuannya. Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua telah diaturNya. Begitu juga dengan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mengapa pada awal masa penjajahan Belanda, pada saat rakyat Indonesia masih berjuang dengan cara sendiri-sendiri, kita tidak juga merdeka? Padahal saat itu di Indonesia masih berdiri sebagian kerajaan-kerajaan besar era Nusantara lama?? Padahal sudah tak terhitung nyawa yang berkorban??? Pasti ada alasannya bukan?.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin Tuhan memberikan semacam “syarat” bila Indonesia ingin merdeka. Apa itu syaratnya? Mungkin (saya ulangi ini adalah mungkin) syaratnya adalah sesuatu yang bernama PERSATUAN. Jadi – sekali lagi ini mungkin – sebelum Indonesia bersatu, Indonesia “belum boleh” merdeka. Mungkin (lagi) Tuhan menghendaki Indonesia menjadi sebuah negara kesatuan, tidak terpecah-pecah. Bukan Sumatra sendiri, Jawa sendiri, Bali  sendiri, Kalimantan sendiri atau Sulawesi sendiri, tapi Indonesia sebagai satu kesatuan tak terpisah. Maka setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, terpenuhilah sudah syarat itu, itu berarti Indonesia sudah ”boleh” merdeka. Lalu dengan caraNya sendiri, Tuhan memerdekakan Indonesia. Dunia menyambut kemerdekaan Indonesia dengan “karpet merah dari Tuhan” yang bernama Perang Dunia ke 2. Melalui Perang Dunia ke 2, Jepang “gantian” dengan Belanda, lalu hancurnya Nagasaki dan Hiroshima, kekosongan kekuasaan dan kemudian lahirlah Indonesia. Begitulah cara Tuhan memuliakan Indonesia. Karena seperti kita ketahui, untuk merubah suatu kaum, Tuhan mengajukan satu persyaratan. Yaitu kaum tersebut harus merubah diri mereka sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih berpikir bahwa kejayaan Nusantara adalah tidak mungkin?. Bahkan setelah membaca tulisan ini?. Mungkinkah fakta-fakta yang telah saya tuliskan diatas masih belum cukup buat anda untuk yakin bahwa Nusantara sedang menuju kejayaannya?. Seperti halnya kemerdekaan Indonesia, kejayaan Indonesia sudah pasti ada “syaratnya”. Karena “syarat” tersebut adalah yang nantinya akan menjadi “alasan” bagi terjadinya sebuah era yang bernama Kejayaan Nusantara. Lalu apakah “syarat” yang harus kita penuhi tersebut? Seberapa jauh kita telah memenuhi “persyaratan” itu? Adakah “karpet merah” yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk kejayaan Nusantara?. Temukan jawabannya di <a title="Nusantara Jaya 2" href="http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/17/fakta-besar-tak-terbantahkan-tak-terelakkan-nusantara-jaya-2-habis/" target="_self"><strong>Fakta Besar, Tak Terbantahkan, Tak Terelakkan… Nusantara Jaya (2)</strong></a></p>
<p>Jember, 27 April 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sonyheradi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sonyheradi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sonyheradi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sonyheradi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sonyheradi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sonyheradi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sonyheradi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sonyheradi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sonyheradi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sonyheradi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sonyheradi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sonyheradi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sonyheradi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sonyheradi.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sonyheradi.wordpress.com&amp;blog=6795382&amp;post=54&amp;subd=sonyheradi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sonyheradi.wordpress.com/2009/05/17/fakta-besar-tak-terbantahkan-tak-terelakkan-nusantara-jaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c3c034f65675f575dd6d2c2f5dd1bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sony heradi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
